Latest Post

Tampilkan postingan dengan label E-Learning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label E-Learning. Tampilkan semua postingan

Mengenal Astrofotografi

Written By Unknown on Minggu, 16 Juni 2013 | 17.40

Siapa diantara kalian yang gemar dengan hobi fotografi? Ya. Di dalam fotografi terdapat berbagai teknik untuk memotret sebuah objek. Salah satunya adalah teknik Astrofotografi. Astrofotografi berasal dari istilah Yunani yang terdiri dari tiga kata,Astron (bintang), Photos (cahaya),dan Graphos (gambar). Secara bahasa,astrofotografi adalah sebuah seni melukis cahaya yan mengkhususkan objek sasarannya pada objek astronomi dan benda-benda langit lainnya.
Astrofotografi
Sejarah awal mula astrofotografi tidak jauh beda dengan fotografi itu sendiri. Diawali dari penemuan kamera obscura dan kamera lubang jarum pada abad pertengahan, fotografi jauh lebih berkembang saat ditemukan cara merekam gambar pada sebuah media permanen. Usaha itu dimulai pada tahun 1800 oleh seorang berkebangsaan Inggris, Thomas Wedgwood (1771-1805) yang membuat foto citra matahari dengan meletakkan objek buram pada sebuah kulit yang dilapisi oleh silver nitrate, sayangnya hasil citra ini memburuk dengan cepat.
Kemudian, Joseph Nicéphore Niépce (1765-1833) dan Louis Daguerre (1787-1851) bekerja sama dan mendapatkan hasil yang lebih baik. Nama yang disebutkan terakhir mempatenkan alatnya bernama daguerreotype (Sebuah alat yang menggunakan tembaga berlapis perak, dilapisi dengan iodida dan merkuri) dan berhasil mendapatkan citra bulan yang dapat bertahan lama, meski detail belum terekspos dengan baik. Baru pada tahun 1840, John William Draper (1811-1882) berhasil mendapatkan citra bulan pertama dengan detail yang baik menggunakan teleskop refraktor 13 cm.
Astrofotografi terus berkembang pesat seiring dengan perkembangnya teknologi dalam dunia fotografi dalam mengembangkan media penyimpanan gambar.
Pada awal tahun 1960-an, berawal dari keluhan seorang teknisi NASA Jet Propulsion Laboratory, Eugene F. Lally, tentang lamanya waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh foto dari misi-misi luar angkasa Amerika Serikat, tercetuslah ide untuk mendigitalisasi sebuah foto. Atas kebutuhan tersebut, pada bulan Desember tahun 1975, seorang teknisi dari perusahaan Kodak yang bernama Steven Sasson, menjadi orang pertama yang menemukan Kamera Digital. Kamera yang dibuatnya menggunakan sensor CCD sebagai media penerimaan gambar dan hanya mampu menghasilkan foto hitam putih dengan resolusi sebesar 0,01 megapixel (320 x 240 pixel). Media penyimpanannya adalah sebuah kaset tape, sedangkan untuk melihat hasil gambar, kamera ini harus disambungkan terlebih dahulu dengan sebuah televisi. Kamera ini mempunyai bobot seberat 3,6 kg dan membutuhkan waktu tak kurang dari 23 detik untuk memproses satu buah foto.
Kehadiran kamera digital memberikan efek perkembangan yang begitu besar bagi astronomi dan astrofotografi. Kamera digital memungkinkan astronom dapat menganalisa spektrum benda langit dengan lebih presisi. Kamera digital juga digunakan oleh teleskop luar angkasa untuk memotret kedalaman alam semesta. Kamera digital bahkan juga dikirim ke halaman tetangga planet kita untuk mengintip suasana kehidupan di sana.
Kamera digital mulai banyak digunakan oleh masyarakat dan para amatir pada akhir tahun 1990an, ketika kamera digital sudah semakin murah dan dan mudah terjangkau. Kemudahannya bagi para amatir adalah bahwa hasil foto dapat langsung dilihat dan dinikmati. Selain itu juga tentu bisa langsung dievaluasikan, apakah foto terlalu gelap, terlalu terang, kurang fokus dan sebagainya. Hal ini membuat astrofotografi jauh lebih sederhana dan mudah bagi siapa saja.

Bermain dengan Cahaya
Cahaya mejadi segalanya dalam dunia fotografi. Dalam fotografi, terdapat tiga elemen dasar dalam mengatur cahaya yang dirangkum dalam segitiga eksposur:

1. Shutter Speed/Kecepatan rana
Dalam proses memotret, kamera melakukan sebuah proses buka tutup pada sebuah jendela yang berada tepat didepan sensor. Seberapa cepat proses jendela ini membuka dan menutup akan menentukan seberapa banyak cahaya yang masuk dan menyinari bidang sensor. Pengaturan pada elemen ini bervariasi, mulai dari yang cepat, contohnya 1/4000 (1 detik dibagi 4000) hingga yang lambat, contohnya 30 detik. Pilihan objek dan kondisi pencahayaan sasaran foto akan menentukan pengaturan rana mana yang anda gunakan. Memotret matahari dan suasana siang hari tentu berlimpah dengan cahaya sehingga anda akan memilih pengaturan rana yang cepat. Sebaliknya, memotret bintang dan suasana malam hari tentu gelap dan membutuhkan pengaturan rana yang lama agar sensor mendapatkan waktu yang cukup untuk mengumpulkan cahaya dan menghasilkan foto yang tidak gelap.
Pilihan kecepatan rana ini juga dapat digunakan untuk membuat efek pada gambar. Untuk dapat membuat benda bergerak menjadi terlihat diam, anda harus menggunakan pengaturan rana cepat. Sebaliknya, anda dapat membuat efek gerak pada gambar dengan menggunakan pengaturan rana yang lambat.

2. Aperture/Diafragma

Setiap lensa kamera memiliki sebuah lorong tempat masuknya cahaya. Pada salah satu bagan lorong tersebut terdapat sebuah jendela yang lebarnya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Jendela ini disebut sebagai Diafragma. Lebar dan sempitnya diafragma dapat menentukan seberapa banyak cahaya yang dapat masuk dalam sebuah rentang waktu eksposur tertentu. Hal ini berkaitan dengan pilihan objek dan kondisi pencahayaan. Jika objek foto anda memiliki pencahayaan yang cukup, anda dapat menggunakan diafragma yang sempit. Sebaliknya, kondisi pencahayaan yang gelap pada objek foto membuat kita harus memperlebar ukuran diafragma.
Pengaturan ukuran diafragma ini juga dapat menentukan seberapa lebar kedalaman fokus sebuah foto. Semakin besar ukuran diafragma, semakin lebar fokus yang didapatkan. Sebaliknya, semakin kecil ukuran diafragma, semakin sempit fokus yang didapatkan. Dalam fotografi, nilai ukuran diafragma dinyatakan dalam simbol F, dan memiliki ukuran nilai dengan fungsi yang terbalik. Semakin kecil nilai F, contohnya F 2.8, F 1.8, F 1.4, maka semakin lebar ukuran diafragma. Sebaliknya, semakin besar nilai F, contohnya F 16, F 22, F 32, maka semakin sempit ukuran diafragma.

3. ISO/Sensitivitas Sensor
Setelah cahaya masuk melalui lensa dan melewati diafragma, cahaya akan diterima oleh sensor kamera. Sensor berfungsi sebagai penangkap cahaya dan penghasil gambar. Sensor memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda-beda dalam mendeteksi cahaya yang masuk. Semakin kecil nilai sensor, contohnya 50, 100 atau 200, maka semakin kecil kemampuan mendeteksi cahaya. Sebaliknya, semakin besar nilai sensor, contohnya 1600, 3200, 6400, maka semakin tinggi dan sensitif dalam mendeteksi cahaya.
Seperti pada dua elemen sebelumnya, pengaturan ISO ini juga ditentukan oleh seberapa terang objek sasaran anda. Memotret matahari atau kondisi siang hari tentu cukup dengan menggunakan ISO yang rendah. Sementara itu, memotret bintang atau kondisi malam hari membutuhkan ISO yang tinggi. Satu hal yang harus anda perhatikan adalah bahwa mengunakan ISO tinggi pada objek terang akan membuat hasil foto anda terlalu terang bahkan ‘terbakar’ atau overexposure. Sebaliknya, menggunakan ISO rendah pada objek gelap akan membuat hasil foto anda gelap atau underexposure. Selain itu, pada sensor digital yang menggunakan media elektronik, semakin tinggi nilai ISO, maka kualitas gambar akan semakin turun karena gambar akan terlihat lebih kasar. Dalam fotografi, sesuatu yang membuat kasar ini disebut sebagai Noise.

Kesimpulannya, tiga elemen inilah yang menjadi dasar dari fotografi. Semakin handal anda dalam memainkan tiga elemen ini, maka semakin baiklah skill anda dalam menjadi seorang fotografer.

Segitiga Eksposure. Tiga Elemen dasar dalam Fotografi.
Apa yang harus disiapkan?

Kamera


Untuk dapat memulai belajar astrofotografi, satu hal yang wajib anda siapkan tentu adalah kamera. Kamera yang digunakan bisa apa saja, mulai dari kamera analog yang masih menggunakan roll film (baik yang tustel ataupun SLR), kamera handphone atau laptop, kamera Webcam, kamera digital pocket, kamera digital SLR, hingga kamera CCD khusus astronomi. Keseluruhan kamera-kamera itu dapat dipakai dalam astrofotografi sesuai dengan fungsi, kekurangan dan kelebihannya. Tingkat teknologi yang dimiliki oleh setiap kamera tentu akan memberikan hasil akhir yang berbeda pula. Singkatnya, harga berbanding lurus dengan kualitas. Tapi tentu saja skill, teknik kemampuan dan pengetahuan yang tinggi dalam memotret dan mengolah gambar akan lebih menentukan.

Dudukan Kamera atau Tripod

Astrofotografi identik dengan malam hari dan objek redup sehingga membutuhkan waktu eksposur yang lama. Hal ini tentu membuat kita membutuhkan posisi diam kamera yang lama agar hasil foto tidak gerak dan buram, karena itulah anda butuh tripod. Namun, jika objek pemotretan anda adalah benda langit yang terang seperti matahari dan bulan purnama, maka tripod tidak terlalu menjadi persoalan.

Jika anda punya: Teleskop

Dengan kamera apapun yang anda miliki, anda sudah dapat melakukan sebuah pemotretan astrofotografi. Untuk dapat memotret, setiap kamera tentu memiliki lensa untuk dapat memfokuskan sebuah benda dan diterima oleh sensor sebagai citra yang fokus dan tajam. Setiap lensa juga memiliki variasi panjang fokus yang berbeda-beda. Sementara objek benda langit yang ingin kita potret memiliki ukuran visual yang bermacam-macam, maka perbedaan variasi panjang fokus ini tentu akan sangat berpengaruh pada tujuan kita memotret sebuah benda langit. Jika anda merasa lensa kamera anda tidak cukup untuk menjangkau sebuah objek jauh, maka anda membutuhkan lensa dengan magnifikasi lebih tinggi. Untuk itu, anda membutuhkan lensa tele atau bahkan lensa teleskop.

Aksesoris


Tujuan anda dalam memotret akan menentukan seberapa banyak aksesoris yang anda butuhkan untuk menunjang pemotretan. Pada pemotretan yang membutuhkan bantuan teleskop misalnya, anda membutuhkan adaptor untuk menghubungkan kamera dengan teleskop. Sementara itu, objek langit pilihan anda kerapkali membutuhkan waktu eksposur dalam pengaturan yang tidak dapat ‘disanggupi’ secara otomatis oleh kamera, karena itulah anda membutuhkan Shutter/Remote Shutter Release (lihat gambar di atas). Jika anda tidak memiliki alat tersebut, anda dapat menggunakan perangkat lunak khusus yang dapat mengontrol penuh kamera anda dalam mengambil gambar. Perangkat lunak ini dapat anda pasang di komputer dan dihubungkan dengan kabel khusus ke kamera yang dapat mendukung fitur ini. Manfaat lain dari alat dan perangkat lunak ini juga dapat mengurangi efek gerak kamera yang disebabkan oleh penekanan tombol rana secara manual. Pilihan objek benda langit dan kondisi pemotretan juga membuat anda membutuhkan filter. Memotret matahari jelas membutuhkan filter matahari, bahkan seringkali bulan purnama masih terlalu terang bagi kamera anda sehingga membutuhkan filter bulan. Memotret benda langit di daerah padat penduduk juga membuat anda membutuhkan filter penapis polusi cahaya.

Bagaimana Caranya?

Jika anda sudah menyiapkan semua peralatan, anda bisa melanjutkan dengan teknik dan cara memotret astrofotografi. Dalam hal ini, ada beberapa teknik astrofotografi yang bisa anda lakukan:

1. Fixed Camera
Metode ini adalah yang paling sederhana dan mudah. Menggunakan lensa kamera bawaan, anda tinggal menyetel pengaturan kamera dengan benar sesuai dengan kondisi objek pilihannya, lalu mengambil gambar. Entah mengambilnya dengan anda memegang kamera atau meletakannya diatas tripod. Dengan tanpa tripod, anda masih bisa memotret benda dan fenomena langit seperti gerhana, pelangi, halo matahari dan bulan. Sementara dengan tripod anda dapat memotret lanskap bintang, bima sakti, rasi bintang, star trail, meteor dan sebagainya.

2. Piggy Back / Driven Camera
Astrofotografi identik dengan benda-benda langit yang penampakannya tidak pernah diam, selalu bergerak berlawanan dengan arah rotasi bumi. Benda-benda langit tersebut juga mayoritas memiliki cahaya yang redup sehingga membutuhkan waktu eksposure yang lama. Memotret dengan eksposur lama pada sebuah objek yang bergerak menjadi sebuah jaminan hasil foto akan buram dan tidak fokus. Hal ini membuat anda harus menggerakkan kamera anda sesuai dengan pergerakan benda-benda langit tersebut. Teknik ini disebut dengan Piggy back/Driven Camera, dimana kamera diletakkan pada sebuah alat yang dapat mengikuti gerak benda langit. Dengan teknik ini anda dapat memotret benda langit dengan waktu eksposur yang lebih lama tanpa khawatir hasil foto akan buram. Dengan begitu hasil foto benda redup seperti rasi bintang dan galaksi bima sakti akan dapat terlihat lebih spektakuler. Anda juga dapat memotret benda langit seperti komet atau bahkan nebula dan galaksi dalam medan pandang yang luas.

Dua cara di atas merupakan teknik astrofotografi yang dibedakan berdasarkan kebutuhan pada cara pengambilan gambar. Kebutuhan ini bergantung pada seberapa terang cahaya objek sasaran sehingga akan menentukan seberapa lama eksposur yang dibutuhkan. Sementara itu, terdapat beberapa teknik astrofotografi yang terbagi berdasarkan kebutuhan cara menangkap cahaya dan fokus objek. Keseluruhannya membutuhkan teleskop sebagai alat bantu magnifikasi. Di antaranya adalah:

1. Afocal
Afokal adalah teknik fotografi yang menggunakan lensa objektif (eyepiece) pada teleskop sebagai alat bantu magnifikasi. Menjadi teknik yang mudah dan murah karena dapat menggunakan kamera yang sederhana seperti kamera handphone, kamera digital dan webcam. Caranya sangat mudah dengan hanya meletakkan lensa kamera anda pada bidang eyepiece teleskop, lalu mengambil gambar. Kesulitan pada teknik ini adalah dalam mensejajarkan lensa eyepiece dengan lensa kamera. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan adaptor tambahan. Karena menggunakan kamera yang sederhana, maka objek yang dapat dipotret pada teknik ini terbatas pada objek-objek terang yang tidak membutuhkan eksposur yang lama, seperti matahari, bulan dan planet, tidak peduli jika teleskop anda dilengkapi dengan motor penggerak.

2. Eyepiece Projection
Teknik ini hampir sama dengan Afokal, hanya saja menggunakan kamera yang lensanya dapat dilepas. Cara ini dapat mengurangi distorsi yang dihasilkan oleh pertemuan dua lensa antara lensa eyepiece dengan lensa kamera dan tentu dapat menghasilkan foto yang lebih baik. Teknik ini membutuhkan adaptor tambahan yang dapat menghubungkan dan mensejajarkan lensa eyepiece dengan sensor kamera. Kamera yang lensanya dapat dilepas biasanya memiliki fitur manual sehingga dapat memotret dengan eksposure yang lama. Karena itu, jika teleskop anda dilengkapi dengan motor penggerak, maka anda tidak hanya dapat memotret benda terang seperti matahari, bulan dan planet, tapi juga dapat memotret benda langit eksotis seperti nebula, galaksi dan star cluster.

3. Negative Projection
Terkadang anda membutuhkan magnifikasi yang lebih tinggi dari yang eyepiece hasilkan. Untuk itu anda membutuhkan sebuah alat yang dapat menambah panjang fokus sebuah teleskop. Alat tersebut biasa disebut dengan Barlow, yang dipasang sebelum lensa Eyepiece. Selain Barlow, teknik ini juga dapat menggunakan lensa teleconverter, yang dipasang pada badan kamera. Baik Barlow maupun teleconverter, sama-sama memiliki pilihan ukuran perbesaran, mulai dari 0.5 kali, 1 kali, 1.5 kali, 2 kali, 2.5 kali hingga 3 kali. Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa meskipun menawarkan kemewahan dalam mengkalikan total perbesaran meningkatkan magnifikasi, teknik ini juga mengkalikan besaran nilai diafragma sehingga lorong yang dilewati oleh cahaya akan semakin sempit dan juga secara drastis dapat menurunkan kemampuan dalam memfokuskan sebuah benda.
Pemotretan dengan teknik ini dapat sangat membantu dalam memotret benda kecil namun terang seperti planet. Namun kurang direkomendasikan untuk memotret benda langit redup seperti nebula atau galaksi karena faktor pengurangan kemampuan fokus.

4. Compression
Jika anda memiliki teleskop dengan magnifikasi yang tinggi, maka akan sangat membantu dalam memotret benda-benda langit yang kecil. Tapi, terkadang anda juga membutuhkan magnifikasi yang lebih rendah untuk dapat melihat benda langit dalam bidang yang lebih luas. Untuk hal ini, anda dapat menggunakan sebuah lensa tambahan bernama Focal Reducer, yang diletakkan sebelum lensa Eyepiece. Dengan alat ini anda tidak perlu mengganti teleskop yang memiliki diameter yang lebih kecil untuk dapat memotret keseluruhan bagian bulan misalnya.

5. Prime Focus
Kekurangan utama pada teknik-teknik astrofotografi yang telah dijelaskan sebelumnya adalah cahaya yang diterima oleh sensor mengalami distorsi dan penyempitan diaframa sehingga proses fokus menjadi lebih sulit. Keberadaan lensa eyepiece dan lensa kamera, termasuk juga Barlow dan Focal Reducer membuat cahaya dari objek sasaran mengalami penyesuaian fokus berkali-kali. Hal ini berbeda dengan teknik Prime Focus. Teknik Prime Focus menggunakan teleskop tanpa lensa Eyepiece yang dihubungkan langsung melalui sebuah adaptor ke badan kamera tanpa menggunakan lensa. Singkatnya, kamera menggunakan teleskop sebagai lensa utamanya.
Prime Focus adalah teknik yang paling sering dipakai dalam astrofotografi tingkat lanjut. Dengan teknik ini, cahaya yang diperoleh teleskop langsung diterima oleh sensor kamera sehingga proses pemfokusan cahaya hanya terjadi sekali dan diatur secara manual oleh teleskop. Hal ini membuat citra gambar menjadi lebih tajam tanpa distorsi berlebihan. Satu-satunya kekurangan pada teknik ini adalah bahwa magnifikasi yang didapat hanyalah terhasil dari hasil refraksi lensa utama teleskop. Jika anda ingin memperbesar magnifikasi, gantilah teleskop anda dengan ukuran diameter optik yang lebih besar dan ukuran fokus yang lebih panjang.
Dengan teknik ini anda dapat memotret hampir semua jenis benda langit, seperti matahari, bulan, planet, komet, bintang, cluster, nebula dan galaksi dan sebagainya. Namun, karena menggunakan teleskop, teknik ini tidak dapat memotret fenomena langit yang memiliki sudut pandang yang luas seperti meteor, aurora, halo dan sebagainya.

Yang Harus Diperhatikan!

Astrofotografi adalah varian dari jenis fotografi dimana objek sasarannya tidak bisa diatur sesuai keinginan. Anda tidak dapat membuat bulan menjadi lebih dekat misalnya, atau menambah cahaya yang dimiliki sebuah galaksi yang redup. Yang dapat anda lakukan hanyalah menambah magnifikasi, mempersensitif sensor atau memperlambat waktu eksposur. Keseluruhannya dapat dilakukan namun dengan ‘harga yang harus dibayar’. Menambah magnifikasi akan mengurangi ukuran diafragma dan mengurangi kontras citra. Mempersensitif sensor juga harus berhadapan dengan Noise yang mengurangi kualitas gambar. Sedangkan memperlambat waktu eksposur juga sangat rentan dengan getaran sehingga membuat gambar jadi buram.
Satu hal yang paling sering terjadi adalah efek getar pada kamera. Dengan pegangan tangan, kamera tentu selalu gerak. Dengan bantuan tripod pun tidak serta merta menyelesaikan masalah. Anda harus menggunakan tripod yang rigid sehingga kamera terpaku kuat. Selain itu anda juga harus memastikan bahwa lokasi pemotretan tidak berangin sehingga terpaan angin tidak membuat kamera menjadi gerak. Proses memencet tombol rana secara manual juga dapat membuat efek gerak yang cukup signifikan, sehingga anda membutuhkan mode timer atau menggunakan remote/shutter release. Bahkan, jika anda menggunakan kamera SLR/DSLR, aktifitas buka tutup cermin kamera dalam memotret juga dapat memberikan efek gerak sehingga anda harus menggunakan mode Mirror Lock Up atau Exposure Delay.
Jika anda menggunakan motor penggerak pada kamera atau teleskop untuk pemotretan dalam eksposur yang lebih lama, anda juga harus benar-benar memperhatikan ketepatan arah kutub motor anda (Polar Alignment). Sebuah motor penggerak harus dapat mengikuti gerak semu harian benda langit pada sudut dan kecepatan yang sama seperti yang terjadi pada bumi. Kekeliruan pada arah kutub utara selatan dan sudut lintang pengamat akan membuat gambar anda menjadi buram, gerak dan tidak fokus. Polar Alignment inilah yang menjadi tantangan paling sulit dalam astrofotografi, terutama jika anda berada di lintang selatan karena tidak ada titik bintang tetap sebagai pemandu kutub seperti yang terjadi pada lintang utara dengan bintang polarisnya.

Astrofotografi Tingkat Serius: Stacking/Menumpuk Gambar
Pada penjelasan sebelumnya kita sudah mempelajari bahwa mayoritas objek astrofotografi memiliki cahaya yang lemah sehingga sensor membutuhkan waktu pencahayaan yang lama. Secara sederhana kita mudah saja berspekulasi, semakin lama sensor terpapar cahaya maka semakin baik foto yang dihasilkan. Sayangnya tidak serta merta seperti itu. Jika kita menggunakan sensor digital sebagai penghasil gambar, maka kita akan selalu berurusan dengan problem termal yang dihasilkan oleh sifat elektris sensor digital. Hal ini akan menghasilkan sebuah sinyal acak yang kita sebut sebagai Noise. Efeknya pada hasil gambar adalah foto terasa grainy atau kasar. Hal yang sama terjadi jika kita menaikkan nilai ISO pada sebuah foto. ISO yang tinggi artinya menaikkan kinerja sensitivitas sensor secara maksimum sehingga semakin rentan akan menimbulkan noise. Dalam fotografi eksposur lama, semakin lama sebuah sensor bekerja dalam menampung cahaya, maka problem noise akan semakin banyak muncul.
Kemudian mungkin anda akan bertanya-tanya, bagaimana orang dapat membuat sebuah foto astronomi yang sangat menakjubkan seperti foto wilayah langit yang penuh dengan awan gas nebula berwarna-warni. Anda tidak perlu sebuah teleskop angkasa Hubble misalnya, untuk dapat membuat foto seperti itu. Cukup dengan satu cara ajaib, yaitu menumpuk gambar, Stacking.
Jika anda serius ingin mendalami stacking, anda tidak lagi menganggap objek bidikan anda sebagai sebuah gambar, tapi sebuah kumpulan foton yang dipancarkan oleh sebuah benda dan ditampung oleh sebuah ‘ember’ bernama sensor. Dalam sebuah proses pengambilan gambar, sensor digital tidak hanya menangkap cahaya asli dari sebuah objek, tapi juga menangkap sinyal radio acak, sinar kosmik, getaran termal dan hal lain sebagainya yang bukan berasal dari sumber objek yang sedang kita foto. Kita sebut itu semua sebagai Noise. Artinya, Dalam satu bingkai foto, terdapat banyak hal yang tertangkap, yang sayangnya mayoritas dari itu justru bukan sesuatu yang kita perlukan, yaitu cahaya dari objek sasaran kita. Kita memerlukan sebuah tindakan yang dapat memunculkan cahaya objek sasaran secara dominan dibanding hal-hal yang tidak kita perlukan tadi. Tindakan itu adalah Stacking.
Satu-satunya alasan mengapa kita melakukan stacking adalah untuk meningkatkan Signal to Noise Ratio (SNR), yaitu sebuah nilai rasio sinyal cahaya objek sasaran terhadap noise sekitar. Dalam setiap foto kita ingin nilai rasio SNR ini bertambah sehingga cahaya yang berasal dari objek sasaran mengalami penguatan dan noise sekitar justru dapat diabaikan.
Caranya cukup mudah, siapkanlah kamera beserta lensa atau teleskopnya. Untuk astrofotografi ini, anda membutuhkan motor penggerak untuk membuat kamera selalu mengikuti arah gerak benda langit. Sangatlah penting membuat setiap foto yang kita ambil memiliki posisi benda yang sama karena yang akan kita lakukan adalah menumpuk gambar. Jika peralatan sudah siap, ambillah sejumlah gambar objek langit dalam sebuah nilai eksposur yang cukup untuk mendeteksi cahaya dari objek tersebut. Maksimalkan nilai eksposur hingga mencapai batasan eksposur langit, namun dengan catatan tidak ada masalah dengan Polar Alignment. Ambillah sejumlah gambar sehingga total eksposur yang diambil memenuhi target, misalnya satu jam. Maka jika eksposur tiap foto adalah 1 menit, maka ambillah sebanyak 60 buah foto. Hasil foto objek ini kita sebut sebagai Sub Light. Jika sudah, tutuplah lensa kamera atau teleskop anda kemudian lakukan pengambilan gambar dengan pengaturan yang sama dengan jumlah minimal setengahnya. Kita sebut hasil foto itu sebagai Sub Dark. Sub Dark digunakan untuk dapat memperoleh informasi noise dan hot pixel pada sepanjang pemotretan Sub Light yang pada proses akhir akan digunakan sebagai penyaring gambar. Jika sudah, anda dapat melanjutkan mengolah foto menggunakan perangkat lunak yang dapat menumpuk gambar.
Teknik Stacking pada dasarnya tidak hanya dengan membuat foto yang banyak lalu ditumpuk, tapi juga bisa dengan cara mengambil video sebuah objek langit lalu memecahnya menjadi puluhan bahkan ratusan foto kemudian ditumpuk. Cara ini jauh lebih sederhana namun hanya berlaku pada objek langit yang cukup terang untuk dapat dideteksi oleh sensor dalam mode video, seperti bulan, matahari atau planet. Cara pengambilan video inilah yang sangat populer digunakan orang untuk mengambil gambar planet, bulan dan matahari karena dapat menggunakan kamera yang murah, seperti Webcam. Hasil video dapat diproses menggunakan perangkat lunak yang dapat memproses video. Selain untuk keperluan foto Deep Sky dan Planetary, Teknik stacking juga digunakan untuk membuat efek Star Trail. Alih-alih membuka sensor selama berjam-jam, jauh lebih mudah dan aman jika melakukannya dengan cara menumpuk gambar.
Fotografi Digital = Pengolahan Digital
Banyak orang yang skeptis dan apatis dengan fotografi digital karena merasa hasil foto dapat dengan mudah direkayasa dan disulap menjadi foto yang indah. Karena alasan itulah banyak orang yang masih setia menggunakan sensor analog seperti roll film. Hal itu memang tidak bisa disalahkan, namun juga sekaligus tidak dapat dibenarkan karena fotografi adalah seni yang bermain dengan rasa dan selera sehingga pendapat tiap orang pasti berbeda-beda. Apapun itu, jika anda menggunakan fotografi digital, pengolahan digital (Digital Image Proccessing) terasa cukup perlu. Tidak untuk merekayasa, tapi untuk memaksimalkan kerja kamera terhadap hasil foto.
Pengolahan digital semakin dirasa perlu jika objek yang difoto adalah benda langit. Ya, astrofotografi memerlukan pengolahan digital dengan segala ‘sampah’ gelombang, sinyal acak dan sinar kosmiknya, meski hanya sekedar menaikkan kontras dan kecerlangan, atau mengurangi noise pada gambar. Terlebih jika anda menggunakan teknik stacking, pengolahan digital mutlak diperlukan.
Kesimpulannya, kita membutuhkan pengolahan digital. Digital berarti kita mengolahnya di komputer menggunakan perangkat lunak. Secara umum terdapat dua tahap pengolahan digital yang masing-masing memiliki perangkat lunak yang berbeda-beda dalam hal fungsi, semua tergantung dari teknik kita dalam astrofotografi. Jika anda menggunakan teknik sederhana menggunakan satu foto, anda dapat langsung mengolahnya pada perangkat lunak yang dapat mengoreksi dan meningkatkan kualitas gambar. Perangkat lunak itu diantaranya adalah Photoshop, Lightroom, Gimp, Nebulosity dan lain-lain. Tapi jika anda menggunakan teknik yang melibatkan banyak foto, anda dapat mengolahnya terlebih dahulu pada perangkat lunak yang dapat melakukan kalibrasi, alignment dan stacking. Perangkat lunak itu antara lain Deep Sky Stacker, Avistack, Registax, IRIS, ImagePlus, AstroArt, PixInsight, MaximDSLR dan lain-lain.
Setiap perangkat lunak tentu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing tergantung dari kebutuhan dan kenyamanan anda. Hal itu tentu tidak akan bisa saya jabarkan di sini, terlebih jika pertanyaannya adalah bagaimana cara menggunakannya. Mencoba dan melatih diri adalah cara yang paling baik dalam memahami cara kerja tiap perangkat lunak dalam mengolah gambar.

Mengenal Yuri Gagarin,Kosmonot Uni Soviet

Written By Unknown on Sabtu, 13 April 2013 | 09.41



Siapa yang tidak kenal dengan Yuri Gagarin? Ya. Yuri Gagarin merupakan kosmonot asal Rusia yang telah membuat sejarah baru bagi Rusia pada masa itu.
Yuri Gagarin lahir di sebuah desa bernama Klushino dekat Gzhatsk,Rusia pada tanggal 9 Maret 1934. Pada masa SMA,Yuri memilih untuk belajar sebagai teknisi di sebuah sekolah kejuruan teknik di Saratov pada tahun 1955. Setelah menyelesaikan tekniknya,Yuri terdaftar sebagai murid di sekolah penerbangan Orenburg. Yuri pernah membuat tugas tentang ilmuwan Rusia,Konstantin Tsiolkovsky. Konstantin Tsiolkovsky adalah seorang tokoh yang terkenal dengan ajarannya mengenai motor jet dan penerbangan antar planet. Di dalam tugasnya,Yuri menulis bahwa hanya satu impian Tsiolkovsky yang belum terwujud,yaitu manusia belum pernah berada di ruang angkasa. 
Setelah lulus dari Orenburg,Yuri diminta bergabung sebagai instruktur penerbang di sekolah tersebut. Setelah peluncuran Sputnik pada 4 Oktober 1957,ilmuwan mulai memikirkan kemungkinan penerbangan manusia ke ruang angkasa. Mendengar hal tersebut,Yuri langsung mengajukan permintaan agar bisa dimasukkan dalam daftar kandidat kosmonot. Dari 20 calon kosmonot yang mengikuti latihan di Moskwa,dipilih 6 yang masuk dalam grup istimewa,salah satunya adalah Yuri Gagarin. Dari 6 orang itu,akhirnya terpilihlah Yuri Gagarin sebagai kosmonot utama dan Herman Titov sebagai cadangan.
Pada tanggal 12 April 1961 pukul 09.07 waktu Moskwa dari Kosmodrom Baykonur,pesawat ruang angkasa Vostok 1 berhasil lepas landas. Pesawat Vostok 1 melakukan satu kali putaran melalui orbit. Pada pukul 10.55 waktu Moskwa,Vostok 1 mendarat di padang rumput di daerah desa Smelovska. Beberapa menit sebelum pendaratan,Yuri meninggalkan pesawat menggunakan kursi pelontar dan dengan menggunakan parasut,ia mendarat dengan selamat.
Tahun-tahun berikutnya,Yuri melanjutkan aktivitasnya di proyek luar angkasa Uni Soviet. Yuri mendidik para kosmonot baru dan memimpin penerbangan pesawat ruang angkasa. 
Yuri meninggal ketika sedang melakukan latihan dengan pesawat MiG-15 dekat Moskwa pada 27 November 1968. Penyebab kematian Yuri karena pesawatnya terlalu tajam saat bermanuver menghindari sebuah balon cuaca.

Yuri Gagarin dianugerahi berbagai penghargaan dan medali dari dunia internasional selain dari Rusia. Diantaranya,pada tahun 1961,presiden pertama RI,Ir. Soekarno mengunjungi Soviet dan Yuri dianugerahi medali Mahaputra

Mengenal Planetarium dan Observatorium

Written By Unknown on Sabtu, 09 Maret 2013 | 16.10


Astronomi ialah cabang ilmu alam yang melibatkan pengamatan benda-benda langit (seperti bintang, planet, komet, nebula, gugus bintang, atau galaksi) serta fenomena-fenomena alam yang terjadi di luar atmosfer Bumi. Ilmu ini secara pokok mempelajari berbagai sisi dari benda-benda langit seperti asal-usul, sifat fisika/kimia, meteorologi, dan gerak dan bagaimana pengetahuan akan benda-benda tersebut menjelaskan pembentukan dan perkembangan alam semesta.
Namun,dalam melakukan pengamatan kita membutuhkan simulasi dan petunjuk maupun tempat untuk mengamati benda langit di langit malam. Dalam melakukan hal ini,kita membutuhkan Planetarium dan Observatorium.


A.   Pengertian Planetarium dan Observatorium

Untuk mempelajari Ilmu Astronomi, khususnya mempelajari tentang pergerakan benda-benda langit dapat dilakukan dengan menggunakan media simulasi, yakni yang sering disebut dengan sebutan planetarium. Sementara pengertian tentang planetarium merupakan sebuah tempat yang memutarkan pertunjukan berupa simulasi benda-benda langit. Dalam suatu planetarium biasanya terdapat ruang pertunjukan “theatre”, tempat diadakannya simulasi fenomena astronomis. Atap sebuah planetarium berbentuk kubah. Tidak seperti pada observatorium, meskipun sama-sama berbentuk kubah, kubah pada planetarium tidak dapat di buka tutup. Inilah yang membedakan suatu planetarium dari observatorium. Akan tetapi, ada pula suatu planetarium yang juga merupakan observatorium.

B. Fungsi Planetarium dan Observatorium

1.    Planetarium Sebagai Wahana Edukasi

Planetarium merupakan sarana wisata pendidikan yang dapat menambah wawasan yang sangat luas kepada pengunjung khususnya bidang ilmu pengetahuan astronomi, karena pertunjukan planetarium yang sering disebut juga Teater Bintang menyajikan berbagai macam peristiwa alam jagat raya. Di dalam teater ini ini pengunjung diajak mengembara ke berbagai tempat di jagad raya yang sangat luas dan menakjubkan,


sehingga pengunjung dapat memahami konsepsi tentang alam semesta dan sekaligus memahami akan kebesaran Sang Maha Pencipta.
Dalam sebuah planetarium digital dapat juga menampilkan berbagai jenis pertunjukan baru dalam format multimedia, dengan pertunjukan audiovisual yang sangat menarik dalam balutan khasanah astronomi. Pada jenis pertunjukan ini menghadirkan hal-hal yang berkaitan dengan alam semesta yang manusia tinggali. Selain pertunjukan simulasi langit ataupun multimedia, pada beberapa planetarium juga kadang terdapat sarana prasarana observasi benda-benda langit untuk menyaksikan fenomena atau kejadian-kejadian alam lainnya.

2.     Planetarium sebagai Sarana Hiburan

Planetarium merupakan alternatif sarana hiburan bagi masyarakat umum, hal ini ditandai dengan menjadikan planetarium sebagai salah satu alternatif tempat rekreasi keluarga. Selain berperan sebagai wahana edukasi, planetarium juga berperan sebagai wahana rekreasi untuk para orang tua ke pada anak maupun pada anak didiknya (murid). Planetarium juga masuk dalam program pariwisata setiap negara, guna membantu devisa negara, walaupun ruang lingkupnya masih kecil. Kadang juga Planetarium dijadikan sarana hiburan musik orchestra yang mempunyai latarbelakang pemandangan simulasi benda-benda langit sebagai latarnya.

3.     Sebagai Tempat Penelititian atau Pengamatan

Observatorium berperan sebagai lembaga ilmiah yang bukan hanya menjadi tempat berpikir dan bekerja para astronom profesional, tetapi juga merupakan tempat bagi masyarakat untuk mengenal dan menghargai sains. Dalam terminologi ekonomi modern, Observatorium berperan sebagai public good. Dalam perjalanan penelitiannya, seringkali sebuah observatorium melahirkan berbagai macam temuan baru di dunia astronomi secara khususnya, dan dalam ilmu pengetahuan secara umum.

C. Sejarah Penemuan Planetarium dan Observatorium

1.    Planetarium

Sejarah dibuatnya sebuah Planetarium dimulai sejak abat ke 17, yakni seorang bangsawan bernama Frederick III of Holstein-Gottorp memesan sebuah “Globe Khusus” kepada Adam Olearius dan disempurnakan oleh Andreas Bösch. Kurang lebih 10 tahun pembuatan, yakni dari tahun 1654 sampai 1664 pembuata globe pesanan itu dibuat, hingga rampung dan diberinama dengan sebutan “Globe of Gottorf”. Globe ini merupakan cikal


Globe of Gottorf
bakal Planetarium pertama didunia, dimana bagian utama dari Globe atau Planetarium ini adalah bulatan cengkung terbuat dari tembaga dengan diameter sekitar 3,1 Meter yang ditaruh diatas. Ilustrasi mengenai rasi bintang terlukis di permukaan bulatan tersebut. Untuk bintangnya, digunakan bulatan kecil dan tembaga yang dilapisi emas. Cahaya dari lampu minyak yang ditaruh di tengah akan membuat bintang bintang bersinar.
Kabarnya Planetarium pertama ini sekarang berada di Museum Kunstkammer St.Petersburg Rusia, akan tetapi yang dipamerkan ini merupakan Replika dari Globe of Gottorf yang asli, hal ini disebabkan planetarium tersebut hangus terbakar pada tahun 1717 dikarenakan perang Great Northern. Lalu Ratu Elizabeth dari Rusia membuat replikanya, sempat replika Globe of Gottorf tersebut di sita oleh Jerman dan disimpan di Dutch Admiralty hingga berakhirnya perang Dunia II, yakni pada tahun 1947 planetarium tersebut di kembalikan ke Rusia.
Sedangkan di abat ke 18, yakni di tahun 1744, telah dibuat Planetarium Mekanika bernama Eise Eisinga’s Planetarium di kota Franeker Friesland Belanda oleh seorang Astronom Amatir asal Belanda bernama Eise Jeltes Eisinga. Planetarium yang sering disebut dengan sebutan “orrey” ini dibangun dari tahun 1774 sampai tahun 1781 dan mendapatkan pengakuan dan pujian dari Raja William I dan Pangeran Frederik dari kerajaan Belanda, hingga akhirnya pada tahun 1818 Planetarium atau orrey tersebut diserahkan ke kerajaan Belanda.
Sementara di abat ke 19, yakni ditahun 1912, seorang Geografiwan bernama Wallace Walter Atwood membuat Globe dengan memlubangi Globe-nya dengan 692 lubang, hal ini beliau lakukan untuk membuat simulasi bintang-bintang berdasarkan magnitudo kecil sedangkan untuk mensimulasikan matahari didalam globe ini dipasang sebuah bola lampu bergerak. Globe ini diberinama dengan sebutan “Atwood Globe”. Sekarang Atwood Globe ini dipamerkan di Planetarium Chicago, USA.
Dari ketiga Globe diatas merupakan cikal bakal sebuah Planetarium sebagai alat peraga mekanik untuk memperlihatkan pergerakan benda-benda langit seperti bintang, planet, Bulan, dan matahari. Hingga pada awal abat ke 20, Planetarium mulai berintergrasi dari jenis Mekanik menjadi Jenis Modern yakni dengan menggunakan teknologi Proyektor.
Dizaman Planetarium mengunakan Proyektor bermula dari ide pertama pembuatan Proyektor Planetarium. Diajukan oleh Pendiri Museum Deutsches bernama Oskar von Mi ller pada tahun 1913 dan Proyektor planetarium yang pertama dibuat pada tahun 1919 berdasarkan ide Walther Bauersfeld dari Carl Zeiss Company. Pada bulan Agustus 1923, proyektor pertama yang diberi nama Model I dipasang di pabrik Carl Zeiss di Jena.


Bauersfeld untuk pertama kali mengadakan pertunjukan di depan publik dengan proyektor tersebut di Museum Deutsches, München Jerman, 21 Oktober 1923.
Deutsches Museum menjadi planetarium pertama di dunia setelah proyektor dipasang secara permanen pada bulan Mei 1925. Di awal Perang Dunia II, proyektor dibongkar dan disembunyikan. Setelah Deutsches Museum yang hancur akibat Perang Dunia II dibangun kembali, proyektor Model I kembali dipasang pada 7 Mei 1951. Sementara tiga tahun kemudian mulai dibangung planetarium-planetarium serupa dengan menggunakan proyektor di beberapa kota di eropa, seperti ditahun 1928 didirikan Planetarium Roma di Itali, tahun 1929 didirikan juga Planetarium Moscow di Rusia dan 5 planetarium didirikan sepanjang tahun 1930 yakni di kota Planetarium Stockholm - Swedia, Planetarium Milan - Itali, Planetarium Hamburg - Jerman, Planetarium Vienna - Austria dan Planetarium Adler Chicago - USA. Hingga ditahun 1937, pendirian Planetarium memasuki daratan Asia, dengan ditandai Pendirian Planetarium Kyoto dan Planetarium Tokyo hingga akhir tahun 60-an, dimana ditahun 1969 Planetarium Jakarta mulai beroperasi untuk pertamakalinya.
Hingga ditahun 1995, teknologi proyektor planetarium memasuki era Dijital dimana aplikasi pertunjukannya berpindah yang dari berteknologi manual menjadi teknologi komputerisasi. Hal ini di mulai oleh Planetarium London – Inggris yang memodernisasi proyektornya secara digital untuk pertama kalinya. Sedangkan di tahun 1996 mulai bermunculan perusahaan pembuat proyektor untuk menemani proyektor yang telah lama ada yakni Carl Zeiss Company, seperti Goto Virtuarium Company asal Jepang yang mayoritas proyektor Planetariumnya menggunakan Proyektor Goto bahkan negara lain juga ada yang menggunakan produk Goto, Sementara perusahaan SkyVision Company asal Inggris, StarRider Company asal Amerika Serikat dan AstroVision Company asal Cina juga mengalami proses pengembangan perusahaan proyektor dengan memasyarakatkan jenis-jenis proyektornya dikalangan negaranya masing-masing maupun negara lain.

2.    Observatorium

Buku rekor dunia, Guinness Book of World Records pada 1982 menyatakan bahwa Cheomseongdae di Gyeongju, Korea Selatan adalah bangunan observatorium astronomi tertua yang masih berdiri di dunia. International Council of Monuments and Sites (ICOMOS), bagian dari IAU, menyatakan Cheomseongdae Silla adalah observatorium tertua di Asia Timur.


Menurut buku “Kenangan tentang Tiga Kerajaan” (Samguk yusa), Cheomseongdae Silla dibangun pada masa pemerintahan ratu Seondeok (633 – 647 M). Di catatan itu tidak ada tanggal tepatnya dan juga tidak dituliskan apa fungsi bangunan ini, tapi catatan-catatan sejarah yang hadir lebih belakangan dan sumber lain berupa karya sastra menyebutkan Cheomseongdae digunakan untuk mengamati rasi bintang dan pergerakan matahari. Catatan-catatan kuno dari Cina juga menyatakan hal serupa.
  
D. Perangkat dan Instrumen di Dalam Planetarium dan Observatorium

Sebagai sarana edutainment ilmu astronomi, sebuah planetarium tentunya memiliki prasarana penunjang. Dimana peralatan tersebut adalah sebuah bangunan kubah berbentuk setengah bola, dimana didalamnya digunakan sebagai teater bintang yang memutar simulasi langit secara tiga dimensi, dengan langit-langit kubah sebagai media proyeksi dari proyektor khusus yang mampu menggambarkan posisi benda-benda langit di malam ataupun siang hari.
Selain teater panorama langit, sebuah planetarium modern saat ini memiliki fasilitas yang beragam. Seperti ruang pameran, wahana interaktif, dan lain sebagainya.
Observatorium yang merupakan tempat pengamatan fenomena astronomis pun memiliki beragam macam peralatan dan instrumentasi. Sebuah observatorium astronomi yang memiliki teleskop optik dituntut memiliki sebuah bangunan yang dapat melindungi teleskop tersebut yang merupakan instrumen utamanya. Yang tentunya untuk fleksibilitas dan kepraktisan, sebuah bangunan yang memuat suatu teleskop optis memiliki atap yang dapat di buka-tutup dengan cepat dan terkadang juga mampu menyesuaikan pergerakan teleskop itu sendiri secara motorik.
Selain teleskop sebagai collector (bagian pengumpul informasi, baik itu informasi dalam bentuk cahaya tampak ataupun dalam panjang gelombang yang lain), sebuah observatorium juga memiliki instrumen pendukung observasi yaitu detektor, dimana perangkat tersebut dapat berupa kamera CCD, spektroskop, dan detektor sinar-X; sinar gamma; ataupun Infra-red. Lain halnya jika teleksopnya merupakan teleskop yang bekerja pada rentang gelombang radio, tentunya ia hanya memiliki sebuah collector yang jika dilihat sepintas mirip seperti sebuah parabola, dan sebuah detektor yang sangat sensitif dengan frekuensi radio tertentu. Berbeda dengan teleskop optis, kebanyakan teleskop radio tentu tidak memerlukan bangunan yang


dapat menutupinya, karena teleskop radio tersebut tidak memiliki komponen yang rentan dan sensitif terhadap cuaca dan lingkungan disekitarnya.
Dan instrumen terakhir dari serangkaian sebuah sistem di observatorium, yaitu analyzer (penganalisa) merupakan sebuah sub-sistem yang digunakan untuk menganalisa data-data hasil observasi, yang pada era dijital seperti saat saat ini sudah menggunakan perangkat yang terkomputerisasi bahkan dengan komputer super yang sangat canggih.

E. Planetarium dan Observatorium di Indonesia

1. Planetarium dan Observatorium Jakarta

Salah planetarium dan observatorium yang terkenal adalah Planetarium dan Observatorium Jakarta yang terletak di komplek Taman Ismail Marzuki,Cikini,Jakarta. Tempat ini dibangun pada tanggal 9 September 1964 atas gagasan Presiden pertama RI,Ir. Soekarno dengan maksud menambah wawasan dan ilmu astronomi bangsa Indonesia. Bangunan kubah setengah lingkaran bola berdiameter 22 meter, berhasil diselesaikan pada tahun 1968. Pada tanggal 10 November tahun yang sama diresmikan oleh Gubernur Jakarta pada waktu itu,Ali Sadikin, bersamaan dengan diresmikannya Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki. Tetapi baru pada tanggal 1 Maret 1969 gedung Planetarium dan Observatorium Jakarta dibuka secara resmi untuk umum.
Peralatan utama Planetarium berupa proyektor simulasi langit tipe universal, merupakan gabungan dari 130 buah proyektor kecil. Sedangkan observatoriumnya dilengkapi teropong bintang buatan Carl Zeis, Tetapi sejak  1996 sistem komputerisasi mulai dilakukan di Planetarium dan Oservatorium Jakarta yaitu dengan merenovasi gedung, sekaligus melakukan pemutakhiran peralatan pertunjukan dengan mengganti proyektor universal yang memproyeksikan gambar-gambar matahari, bulan, planet, bintang, komet, yang awalnya dilakukan secara manual diganti dengan sistem komputer, termasuk perubahan letak benda-benda langit dengan peragaan simulasi langit.
Planetarium dan Observatorium tak hanya dibuka bagi masyarakat umum,  tetapi juga bagi anak-anak,rombongan siswa SD sampai dengan mahasiswa tingkat Perguruan Tinggi. Untuk acara siswa sekolah dikemas sedemikian rupa yang dikaitkan dengan pelajaran geografi, fisika, meteorologi dan astronomi sesuai dengan kurikulum di sekolah.
Oleh karena itu Planetarium dan Observatorium Jakarta mempunyai peranan yang sangat penting dalam pencapaian pemahaman ilmu tersebut, sekaligus melaksanakan praktek melihat simulasi alam semesta.

2. Observatorium Bosscha

Salah satu observatorium yang terbesar dan tertua di Indonesia adalah Observatorium Bosscha yang terletak di ketinggian 1310 meter di atas permukaan laut yang berlokasi di daerah Lembang,Bandung.
Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan tehMalabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.
Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928.
Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.
Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia. Pada tahun 2004,Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh pemerintah RI. Selanjutnya, tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital nasional yang harus diamankan.  Observatorium Bosscha berperan sebagai homebase bagi penelitian astronomi di Indonesia.

Galileo Galilei,Bapak Astronomi Modern Dunia

Written By Unknown on Sabtu, 16 Februari 2013 | 14.49


Siapa yang tidak kenal Galileo Galilei? Ya,Galileo Galilei adalah seorang astronom italia yang sering dijuluki sebagai bapak astronomi modern.
Galileo Galilei lahir pada tanggal 15 Februari 1564 di Pisa,Italia. Dia adalah anak pertama dari enam anak yang lahir dari ayahnya,Vincenzo Galilei sebagai seorang musisi dan ibunya, Giulia Degli Ammannati. Pada usia 6 tahun,keluarga Galileo pindah ke Florence. Di Florence,Galileo mendapatkan pendidikan awal di sebuah biara. Sebagai seorang remaja,ia cenderung ke arah iman katolik dan bahkan diharapkan untuk menjadi seorang pendeta. Namun,ayahnya ingin dia belajar kedokteran. Dan pada usia 17 tahun Galileo terdaftar di University of Pisa dengan fakultas kedokteran. Galileo tidak pernah menyelesaikan gelar dokternya dan lebih menekuni studi matematika.
jam pendulum yang ditemukan oleh Galileo
Pada tahun 1581,saat masih mahasiswa,Galileo yang sedang meneliti tentang pendulum dan bidang miring di University of Pisa kebetulan melihat gerakan berayun lampu di katedral Pisa. Dia menggunkan detak jantungnya sebagai timer untuk menghitung waktu ayunan besar dan kecil. Galileo lantas mengambil kesimpulan bahwa terlepas dari sudut gerak,periode pendulum adalah konstan. Penemuan ini kemudian mengarah pada penemuan jam pendulum.
Pada tahun 1589,Galileo ditugaskan sebagai ketua jurusan matematika di University of Pisa. Dia memegang posisi ini selama 3 tahun dan selama waktu tersebut,ia menulis sejumlah esai tentang teori gerak.
Pada tahun 1592,Galileo mengambil pekerjaan di University of Padua. Di University of Padua,beliau bertugas mengajarkan geometri Euclid dan astronomi geosentris pada mahasiswa kedokteran. Dia menjalani pekerjaan ini selama kurang lebih 18 tahun. 

Pada tahun 1602,Galileo menegaskan bahwa periode pendulum adalah konstan,setelah melakukan percobaan ulang bersama dengan murid-muridnya. Dia menegaskan periode pendulum apapun adalah independen dari ukuran busur yang dilaluinya (isochronism of a pendulum). Selama periode hidup Galileo,teori Aristoteles begitu mendominasi dan dianggap sebagai sebuah kebenaran. Teori ini menyatakan benda-benda langit berputar mengelilingi bumi,dan bumi adalah sebagai pusat alam semesta.
teleskop yang ditemukan oleh Galileo Galilei
Namun,pada tahun 1604,Galileo menentang teori Aristoteles dan secara terbuka mengakui bahwa dia mendukung teori Nicolaus Cipernicus. Teori ini menyatakan bahwa bumi bersama planet-planet lain berputar mengelilingi matahari.
Pada tahun 1609,Galileo mendengar tentang pembuat kaca asal belanda yang berhasil membuat lensa yang dapat digunakan untuk melihat objek yang jauh. Dia menggunakan lensa tersebut untuk membuat teleskop pada tanggal 25 Agustus 1609 dan menyajikan penemuannya ke Senat Venesia. Pada salah satu malam di tahun 1609,ketika Galileo mengarahkan teleskopnya ke langit,dia menemukan fakta-fakta yang menakjubkan. Menurut Aristoteles, benda-benda langit berbentuk mulus tanda cela, namun Galileo menemukan bahwa hipotesis Aristoteles tidak benar. Galileo juga mempelajari galaksi Bimasakti dan mengamati bahwa galaksi ini dipenuhi bintang yang tak terhitung jumlahnya.
Pada tahun 1610,Galileo mengarahkan teleskopnya ke Jupiter dan menemukan 4 objek seperti bintang di sekitar Jupiter. Dia juga menyadari bahwa 'bintang-bintang' tersebut berputar di sekitar Jupiter. Galileo lantas menarik kesimpulan bahwa benda tersebut sebenarnya adalah satelit yang mengelilingi Jupiter. Penemuan ini menegaskan keyakinannya pada teori Copernicus bahwa tidak semua benda langit berputar mengelilingi bumi. Jika ada benda-benda langit tidak berputar mengelilingi bumi, maka ada kemungkinan bumi bukanlah pusat alam semesta. Galileo menerbitkan temuan sensasionalnya dalam buku ‘The Starry Messenger’ yang diterbitkan di Venesia, Italia. Saat di Florence, Galileo menemukan benjolan aneh di Saturnus (Cincin Saturnus), fase Venus dan Mars, dan Bintik hitam di permukaan matahari.  Penemuan dan publikasi Galileo membuatnya terkenal, namun mendapatkan penentangan dari pengikut Gereja dan pendukung teori Aristoteles. Penemuan Galileo ditentang keras oleh Gereja dan memerintahkan Galileo untuk tidak mempertahankan, mengajar,dan membela dengan cara apapun. Karena Galileo adalah seorang Kristiani sejak lahir, dia mengikuti perintah Gereja untuk sementara. Saat kemarahan terhadap penemuannya telah mereda, dia mulai melakukan penelitian lagi.
Pada tahun 1632,Galileo menerbitkan sebuah buku yang berjudul "Dialogue Concerning The Two Chief World Systems" yang telah dia selesaikan selama 6 tahun. Buku ini didasarkan pada teori Copernican dan melalui buku tersebut Galileo berbicara tentang keyakinnanya akan kebenaran teori Copernicus. Akibat dari publikasi ini,Galileo diperintahkan menghadap tokoh gereja di Roma. Gereja memerintahkan Galileo untuk secara  publik menanggalkan keyakinannya pada teori Copernicus. Galileo dijatuhi hukuman tahanan rumah dengan larangan dikunjungi selama sisa hidupnya. Meskipun mendapatkan penentangan dari berbagai ilmuwan dan negarawan,atas keputusan Paus dan inkuisisi Roma,hukuman Galileo tidak pernah diringankan.
Pada tahun 1637,ketika Galileo menjadi buta,hukuman atasnya agak dikendorkan dan diizinkan menerima pengunjung.
Pada tahun 1638,Galileo berhasil berhasil menyelesaikan penelitian yang menjadi dasar bagi mekanika modern yang disebut "Disources on Two New Sciences". Naskah ini berhasil diselundupkan ke Belanda untuk kemudian diterbitkan.
Pada tanggal 8 Januari 1642 ,Galileo meninggal pada usia 77 tahun dan dianggap oleh sebagian orang sebagai "martir bagi kebenaran ilmiah". 
Barulah pada tahun 1992,Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa Gereja Katolik telah membuat kesalahan dengan menghukum Galileo.

Mengapa Langit Berwarna Biru?

Written By Unknown on Rabu, 06 Februari 2013 | 16.58


Mungkin kalian sering berpikir mengapa langit berwarna biru. Dan mungkin kalian juga masih bingung mengapa langit bisa berwarna biru. Apakah warna biru itu berasal dari pantulan warna samudera ataukah dari cahaya matahari. Langit berwarna biru disebabkan karena cahaya matahari. 
Cahaya matahari memiliki frekuensi cahaya yang berbeda-beda,yaitu merah,kuning,hijau,biru,hingga ungu. Merah memiliki frekuensi lebih kecil dari kuning,kuning lebih kecil dari hijau,hijau lebih kecil dari biru,biru lebih kecil dari ungu. Semakin besar frekuensi cahaya,maka semakin besar cahaya yang dihamburkan.
Seiring dengan perjalanan cahaya matahari melintasi atmosfer,cahaya matahari menabrak butiran air,kristal es,atau partikel debu dan polusi. Kesemuanya itu membuat cahaya pecah dan menyebar sehingga warna yang terkandung di dalam cahaya matahari memiliki sifat tertentu. Warna biru dalam cahaya matahari paling tersebar,sehingga pada hari yang cerah dan hangat langit terlihat biru terang.


Mengapa Langit di Sore Hari Berwarna Merah?


Langit saat matahari terbenam dan terbit sering sekali berubah menjadi merah terang. Hal tersebut terjadi karena matahari berada di posisi terendah sehingga cahaya matahari harus melalui jarak yang lebih jauh melintasi atmosfer,karenanya cahaya terpisah dan tersebar. Cahaya biru paling tersebar sehingga hanya warna merah,jingga,dan kuning yang tersisa saat cahaya mencapai tanah. Kita pun melihat langit berwarna merah.


Mengenal Bulan

Written By Unknown on Sabtu, 02 Februari 2013 | 09.29


Bulan adalah satu-satunya satelit alam milik Bumi dan merupakan satelit alam terbesar ke-5 di tata surya kita. Mengapa Bulan dapat memancarkan cahaya?. Jangan pernah berpikir Bulan dapat memancarkan cahayanya sendiri. Bulan memancarkan cahaya dari pantulan sinar matahari. Seperti cahaya lampu yang memantul di jalan sehingga jalan terlihat seperti memancarkan cahaya.
Bulan memiliki diameter sebesar 3.474 km dan memiliki jarak rata-rata Bulan-Bumi sekitar 384.403 km. Bulan beredar mengelilingi Bumi sekali setiap 27,3 hari (periode orbit adalah waktu yang diperlukan bagi suatu benda untuk melakukan satu orbit penuh mengitari benda lain). Variasi periodik dalam sistem Bumi-Bulan-Matahari bertanggung jawab atas terjadinya fase Bulan yg berulang setiap 29,5 hari (periode sinodik).
Mengapa Bulan tidak jatuh ke Bumi? Karena Bulan ditarik oleh gravitasi Bumi yang disebabkan oleh gaya sentrifugal yang timbul dari orbit Bulan mengelilingi Bumi. Gaya sentrifugal adalah gaya yang ditimbulkan ketika sebuah benda melakukan gerak melingkar atau menjauhi pusat putaran. Sehingga gaya sentrifugal ini menyebabkan Bulan semakin menjauh dari Bumi dengan kecepatan sekitar 3,8 cm/tahun. Orbit Sinkron menyebabkan kala rotasi sama dengan kala revolusinya sehingga kita hanya dapat melihat satu sisi wajah Bulan.
Di Bulan tidak air dan udara. Banyaknya kawah di Bulan disebabkan oleh ratusan asteroid. Kawah terbesar adalah Clavius dengn diameter 230 km dan sedalam 3,6 km. 
Misi Apollo 11 yang berhasil mendaratkan manusia pertama di Bulan
Bulan adalah satu-satunya benda langit yang pernah didatangi dan didarati manusia. Objek buatan pertama yang melintas dekat Bulan adalah wahana antariksa milik Uni Soviet, Luna 1. Objek buatan pertama yang membentur permukaan Bulan adalah Luna 2. Dan foto pertama sisi jauh bulan yang tak pernah terlihat dari Bumi,diambil oleh Luna 3, semua misi dilakukan pada 1959.  Wahana antariksa pertama yang berhasil melakukan pendaratan adalah Luna 9 dan yang berhasil mengorbit Bulan adalah Luna10,keduanya dilakukan tahun 1966. Program Apollo milik AS adalah satu-satunya misi berawak hingga kini, yang melakukan enam pendaratan berawak antara 1969 dan 1972.
Bulan memiliki beberapa fase,yaitu :
1. New Moon/Bulan Baru
2. Waxing Cresent/Bulan Sabit
3. First Quarter/Bulan Separuh
4. Waxing Gibbous/Bulan Seperempat
5. Full Moon/Bulan Purnama
6. Waning Gibbous
7. Last Quarter
8. Waning Cresent

Fase Bulan























Lalu fase di atas terjadi berulang-ulang dan selalu kembali ke awal. Apabila kalian ingin mengetahui proses terbentuknya Bulan,kalian dapat melihatnya di artikel ini : Terbentuknya Bulan

Satellite Flare,Titik Cahaya yang Bergerak di Malam Hari

Written By Unknown on Jumat, 28 Desember 2012 | 08.40

Apabila kalian melihat hujan meteor,pasti terlihat garis-garis putih di langit. Namun,apabila kalian melihat hujan meteor,pasti tanpa di sengaja kalian melihat sebuah titik cahaya yang bergerak yang melintasi langit malam dengan cepat. Seperti gambar di bawah ini!



Orang-orang banyak mengira bahwa itu adalah UFO. Namun,itu bukanlah UFO. Fenomena di atas disebut sebagai Satellite Flare. Fenomena ini terjadi karena antena yang reflektif pada satelit memantulkan cahaya matahari ke permukaan Bumi,sehingga terlihat seperti objek terang yang melintas dengan cepat. Jadi,cahaya ini adalah sebuah satelit bukanlah sebuah UFO.
Fenomena ini kebanyakan disebabkan oleh Satelit Iridium. Satelit ini memiliki 3 buah antena seukuran sebuah pintu rumah. Masing-masing terpisah 120 derajat dengan sudut 40 derajat. Tingkat magnitudonya bisa mencapai -9,5. Sangat terang,bukan?
Saking terangnya sampai-sampai fenomena ini dianggap merugikan oleh para antusias astronomi, karena benda ini terkadang dapat menyebabkan kerusakan pada perlengkapan optik mereka,seperti teleskop

SOFIA,Teleskop Terbang Terbesar di Dunia

Written By Unknown on Rabu, 26 Desember 2012 | 09.42


Sejak dulu,para astronom ingin sekali melihat proses kelahiran sebuah "bayi" bintang. Walaupun telah banyak teori-teori tentang kelahiran sebuah bintang,tidak ada yang dapat membutikannya. Namun,sekarang para astronom memilih pendekatan lain untuk mencari dan melihat 'bayi' bintang.
Teleskop SOFIA adalah satu-satunya pendekatan yang digunakan astronom untuk mempelajari bagaimana bintang lahir dan berkembang. SOFIA atau Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy merupakan proyek bersama Jerman dengan Amerika Serikat. Teleskop SOFIA memiliki berat 15 ton ditanamkan pada badan pesawat jumbo Boeing 747SP. 
Rasi Orion tampak dari pantulan cahayanya (kiri)
Inilah citra inframerah yang ditangkap teleskop SOFIA (kanan)
Teleskop ini adalah teleskop terbesar yang dipasang di pesawat terbang. Di ketinggian 45 ribu kaki atau sekitar 14 Km,teleskop SOFIA menangkap sinar inframerah yang dipancarkan bintang-bintang yang jaraknya ribuan hingga jutaan tahun cahaya.
James de Buizer,salah satu astronom yang mengoperasikan SOFIA mengatakan "kalau ada sedikit kelemahan dari teleskop 'terbang' ini adalah pengaruh gerakan pesawat dan terpaan angin. Namun di luar kompensasi faktor gerakan pesawat,kami tetap mendapatkan gambar terbaik untuk teleskop seukuran ini".
Dengan terbang pada ketinggian lebih dari 45 ribu kaki,teleskop SOFIA hampir sepenuhnya terbebas dari faktor penguapan air yang ada di atmosfer Bumi. Dia bisa menangkap 80% sinar inframerah yang sampai di orbit Bumi. Bisa dikatakan teleskop ini lebih sensitif dibanding teleskop Hubble ataupun spitzer sekalipun.

Mengenal Badai Matahari

Written By Unknown on Sabtu, 22 Desember 2012 | 09.20

Matahari adalah satu-satunya bintang yang memberi kehidupan bagi tata surya kita. Namun apakah kalian tahu bahwa terdapat hal yang dianggap berbahaya dari matahari?
Ya,satu-satunya hal tersebut adalah badai matahari. Badai matahari atau solar storm adalah suatu siklus matahari yang terjadi setiap 11 tahun yang diakibatkan karena munculnya bintik matahari yang akan menyebabkan bidang magnetiknya menjadi kacau balau hingga terbentuknya solar flare/lidah api. yang kadang disertai dengan pelepasan massa korona. 
Badai matahari tidaklah berbahaya dan tidak mengancam kehidupan di Bumi. Badai matahari sebenarnya adalah berupa partikel-partikel yang dibawa oleh lidah api matahari. Dan apabila partikel-partikel ini menghantam magnetosfer Bumi,maka pada bagian kutub utara dan selatan Bumi akan terbentuk aurora. Badai matahari hanya dapat mengganggu sistem komunikasi,navigasi,fungsi satelit,dan sistem perbankan. Bukan berarti badai matahari sebagai tanda-tanda kiamat!. Badai matahari ini adalah siklus normal yang selalu terjadi oleh setiap bintang di jagad raya.

Apakah badai matahari dapat menghanguskan bumi beserta isinya? 
Tidak!

Badai matahari telah terjadi sejak berjuta-juta tahun lalu. Kalau memang Bumi hangus akibat badai matahari,maka sampai sekarang Bumi tidak akan memiliki kehidupan. Dan apabila badai matahari mengeluarkan energi yang cukup besar,maka tidak berdampak pada kehidupan,tetapi berdampak pada listrik dan jalur komunikasi yang mengakibatkan seluruh sumber listrik dan jaringan terganggu. Dan akibat semuanya terganggu,seluruh kegiatan akan lumpuh total bahkan dapat melumpuhkan kegiatan ekonomi di dunia.
Namun,manusia sudah belajar sejak masa lalu. NASA sudah mengirim dua wahananya untuk melihat aktivitas matahari terkini. Seperti ACE dan SOHO yang sampai sekarang masih terus bekerja mengawasi perkembangan aktivitas matahari.
Jika wahana itu mendeteksi adanya CME, maka sensornya akan segera menghasilkan peringatan yang memberikan cukup waktu untuk manusia bumi (kita) untuk mengambil langkah antisipasi, seperti mengubah sistem satelit kita menjadi “safe mode”. Dengan demikian, kerusakan yang ditimbulkannya akan menjadi sangat minimal. Antisipasi yang sama juga telah dilakukan terhadap infrastruktur dan sumber pembangkit listrik lainnya. 

Radiasi dari badai matahari,apakah dapat merusak tubuh?
Tidak

Walaupun radiasi yang ditimbulkan badai matahari cukup besar,namun pada dasarnya tidak menyebabkan gangguan semacam itu. Radiasi yang ditimbulkan hanya akan mengganggu operasional satelit dan propagasi radio gelombang pendek namun tidak mengganggu kehidupan manusia.
Radiasai pada badai matahari juga dapat meningkatkan suhu di Bumi secara signifikan.
Jika kalian ingin lebih mengenal badai matahari,silahkan lihat video dibawah ini



 
Support : Copyright © 2013. Astronomi ID - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger