Home » » Mengenal Planetarium dan Observatorium

Mengenal Planetarium dan Observatorium

Written By gioabi fashar on Sabtu, 09 Maret 2013 | 16.10


Astronomi ialah cabang ilmu alam yang melibatkan pengamatan benda-benda langit (seperti bintang, planet, komet, nebula, gugus bintang, atau galaksi) serta fenomena-fenomena alam yang terjadi di luar atmosfer Bumi. Ilmu ini secara pokok mempelajari berbagai sisi dari benda-benda langit seperti asal-usul, sifat fisika/kimia, meteorologi, dan gerak dan bagaimana pengetahuan akan benda-benda tersebut menjelaskan pembentukan dan perkembangan alam semesta.
Namun,dalam melakukan pengamatan kita membutuhkan simulasi dan petunjuk maupun tempat untuk mengamati benda langit di langit malam. Dalam melakukan hal ini,kita membutuhkan Planetarium dan Observatorium.


A.   Pengertian Planetarium dan Observatorium

Untuk mempelajari Ilmu Astronomi, khususnya mempelajari tentang pergerakan benda-benda langit dapat dilakukan dengan menggunakan media simulasi, yakni yang sering disebut dengan sebutan planetarium. Sementara pengertian tentang planetarium merupakan sebuah tempat yang memutarkan pertunjukan berupa simulasi benda-benda langit. Dalam suatu planetarium biasanya terdapat ruang pertunjukan “theatre”, tempat diadakannya simulasi fenomena astronomis. Atap sebuah planetarium berbentuk kubah. Tidak seperti pada observatorium, meskipun sama-sama berbentuk kubah, kubah pada planetarium tidak dapat di buka tutup. Inilah yang membedakan suatu planetarium dari observatorium. Akan tetapi, ada pula suatu planetarium yang juga merupakan observatorium.

B. Fungsi Planetarium dan Observatorium

1.    Planetarium Sebagai Wahana Edukasi

Planetarium merupakan sarana wisata pendidikan yang dapat menambah wawasan yang sangat luas kepada pengunjung khususnya bidang ilmu pengetahuan astronomi, karena pertunjukan planetarium yang sering disebut juga Teater Bintang menyajikan berbagai macam peristiwa alam jagat raya. Di dalam teater ini ini pengunjung diajak mengembara ke berbagai tempat di jagad raya yang sangat luas dan menakjubkan,


sehingga pengunjung dapat memahami konsepsi tentang alam semesta dan sekaligus memahami akan kebesaran Sang Maha Pencipta.
Dalam sebuah planetarium digital dapat juga menampilkan berbagai jenis pertunjukan baru dalam format multimedia, dengan pertunjukan audiovisual yang sangat menarik dalam balutan khasanah astronomi. Pada jenis pertunjukan ini menghadirkan hal-hal yang berkaitan dengan alam semesta yang manusia tinggali. Selain pertunjukan simulasi langit ataupun multimedia, pada beberapa planetarium juga kadang terdapat sarana prasarana observasi benda-benda langit untuk menyaksikan fenomena atau kejadian-kejadian alam lainnya.

2.     Planetarium sebagai Sarana Hiburan

Planetarium merupakan alternatif sarana hiburan bagi masyarakat umum, hal ini ditandai dengan menjadikan planetarium sebagai salah satu alternatif tempat rekreasi keluarga. Selain berperan sebagai wahana edukasi, planetarium juga berperan sebagai wahana rekreasi untuk para orang tua ke pada anak maupun pada anak didiknya (murid). Planetarium juga masuk dalam program pariwisata setiap negara, guna membantu devisa negara, walaupun ruang lingkupnya masih kecil. Kadang juga Planetarium dijadikan sarana hiburan musik orchestra yang mempunyai latarbelakang pemandangan simulasi benda-benda langit sebagai latarnya.

3.     Sebagai Tempat Penelititian atau Pengamatan

Observatorium berperan sebagai lembaga ilmiah yang bukan hanya menjadi tempat berpikir dan bekerja para astronom profesional, tetapi juga merupakan tempat bagi masyarakat untuk mengenal dan menghargai sains. Dalam terminologi ekonomi modern, Observatorium berperan sebagai public good. Dalam perjalanan penelitiannya, seringkali sebuah observatorium melahirkan berbagai macam temuan baru di dunia astronomi secara khususnya, dan dalam ilmu pengetahuan secara umum.

C. Sejarah Penemuan Planetarium dan Observatorium

1.    Planetarium

Sejarah dibuatnya sebuah Planetarium dimulai sejak abat ke 17, yakni seorang bangsawan bernama Frederick III of Holstein-Gottorp memesan sebuah “Globe Khusus” kepada Adam Olearius dan disempurnakan oleh Andreas Bösch. Kurang lebih 10 tahun pembuatan, yakni dari tahun 1654 sampai 1664 pembuata globe pesanan itu dibuat, hingga rampung dan diberinama dengan sebutan “Globe of Gottorf”. Globe ini merupakan cikal


Globe of Gottorf
bakal Planetarium pertama didunia, dimana bagian utama dari Globe atau Planetarium ini adalah bulatan cengkung terbuat dari tembaga dengan diameter sekitar 3,1 Meter yang ditaruh diatas. Ilustrasi mengenai rasi bintang terlukis di permukaan bulatan tersebut. Untuk bintangnya, digunakan bulatan kecil dan tembaga yang dilapisi emas. Cahaya dari lampu minyak yang ditaruh di tengah akan membuat bintang bintang bersinar.
Kabarnya Planetarium pertama ini sekarang berada di Museum Kunstkammer St.Petersburg Rusia, akan tetapi yang dipamerkan ini merupakan Replika dari Globe of Gottorf yang asli, hal ini disebabkan planetarium tersebut hangus terbakar pada tahun 1717 dikarenakan perang Great Northern. Lalu Ratu Elizabeth dari Rusia membuat replikanya, sempat replika Globe of Gottorf tersebut di sita oleh Jerman dan disimpan di Dutch Admiralty hingga berakhirnya perang Dunia II, yakni pada tahun 1947 planetarium tersebut di kembalikan ke Rusia.
Sedangkan di abat ke 18, yakni di tahun 1744, telah dibuat Planetarium Mekanika bernama Eise Eisinga’s Planetarium di kota Franeker Friesland Belanda oleh seorang Astronom Amatir asal Belanda bernama Eise Jeltes Eisinga. Planetarium yang sering disebut dengan sebutan “orrey” ini dibangun dari tahun 1774 sampai tahun 1781 dan mendapatkan pengakuan dan pujian dari Raja William I dan Pangeran Frederik dari kerajaan Belanda, hingga akhirnya pada tahun 1818 Planetarium atau orrey tersebut diserahkan ke kerajaan Belanda.
Sementara di abat ke 19, yakni ditahun 1912, seorang Geografiwan bernama Wallace Walter Atwood membuat Globe dengan memlubangi Globe-nya dengan 692 lubang, hal ini beliau lakukan untuk membuat simulasi bintang-bintang berdasarkan magnitudo kecil sedangkan untuk mensimulasikan matahari didalam globe ini dipasang sebuah bola lampu bergerak. Globe ini diberinama dengan sebutan “Atwood Globe”. Sekarang Atwood Globe ini dipamerkan di Planetarium Chicago, USA.
Dari ketiga Globe diatas merupakan cikal bakal sebuah Planetarium sebagai alat peraga mekanik untuk memperlihatkan pergerakan benda-benda langit seperti bintang, planet, Bulan, dan matahari. Hingga pada awal abat ke 20, Planetarium mulai berintergrasi dari jenis Mekanik menjadi Jenis Modern yakni dengan menggunakan teknologi Proyektor.
Dizaman Planetarium mengunakan Proyektor bermula dari ide pertama pembuatan Proyektor Planetarium. Diajukan oleh Pendiri Museum Deutsches bernama Oskar von Mi ller pada tahun 1913 dan Proyektor planetarium yang pertama dibuat pada tahun 1919 berdasarkan ide Walther Bauersfeld dari Carl Zeiss Company. Pada bulan Agustus 1923, proyektor pertama yang diberi nama Model I dipasang di pabrik Carl Zeiss di Jena.


Bauersfeld untuk pertama kali mengadakan pertunjukan di depan publik dengan proyektor tersebut di Museum Deutsches, München Jerman, 21 Oktober 1923.
Deutsches Museum menjadi planetarium pertama di dunia setelah proyektor dipasang secara permanen pada bulan Mei 1925. Di awal Perang Dunia II, proyektor dibongkar dan disembunyikan. Setelah Deutsches Museum yang hancur akibat Perang Dunia II dibangun kembali, proyektor Model I kembali dipasang pada 7 Mei 1951. Sementara tiga tahun kemudian mulai dibangung planetarium-planetarium serupa dengan menggunakan proyektor di beberapa kota di eropa, seperti ditahun 1928 didirikan Planetarium Roma di Itali, tahun 1929 didirikan juga Planetarium Moscow di Rusia dan 5 planetarium didirikan sepanjang tahun 1930 yakni di kota Planetarium Stockholm - Swedia, Planetarium Milan - Itali, Planetarium Hamburg - Jerman, Planetarium Vienna - Austria dan Planetarium Adler Chicago - USA. Hingga ditahun 1937, pendirian Planetarium memasuki daratan Asia, dengan ditandai Pendirian Planetarium Kyoto dan Planetarium Tokyo hingga akhir tahun 60-an, dimana ditahun 1969 Planetarium Jakarta mulai beroperasi untuk pertamakalinya.
Hingga ditahun 1995, teknologi proyektor planetarium memasuki era Dijital dimana aplikasi pertunjukannya berpindah yang dari berteknologi manual menjadi teknologi komputerisasi. Hal ini di mulai oleh Planetarium London – Inggris yang memodernisasi proyektornya secara digital untuk pertama kalinya. Sedangkan di tahun 1996 mulai bermunculan perusahaan pembuat proyektor untuk menemani proyektor yang telah lama ada yakni Carl Zeiss Company, seperti Goto Virtuarium Company asal Jepang yang mayoritas proyektor Planetariumnya menggunakan Proyektor Goto bahkan negara lain juga ada yang menggunakan produk Goto, Sementara perusahaan SkyVision Company asal Inggris, StarRider Company asal Amerika Serikat dan AstroVision Company asal Cina juga mengalami proses pengembangan perusahaan proyektor dengan memasyarakatkan jenis-jenis proyektornya dikalangan negaranya masing-masing maupun negara lain.

2.    Observatorium

Buku rekor dunia, Guinness Book of World Records pada 1982 menyatakan bahwa Cheomseongdae di Gyeongju, Korea Selatan adalah bangunan observatorium astronomi tertua yang masih berdiri di dunia. International Council of Monuments and Sites (ICOMOS), bagian dari IAU, menyatakan Cheomseongdae Silla adalah observatorium tertua di Asia Timur.


Menurut buku “Kenangan tentang Tiga Kerajaan” (Samguk yusa), Cheomseongdae Silla dibangun pada masa pemerintahan ratu Seondeok (633 – 647 M). Di catatan itu tidak ada tanggal tepatnya dan juga tidak dituliskan apa fungsi bangunan ini, tapi catatan-catatan sejarah yang hadir lebih belakangan dan sumber lain berupa karya sastra menyebutkan Cheomseongdae digunakan untuk mengamati rasi bintang dan pergerakan matahari. Catatan-catatan kuno dari Cina juga menyatakan hal serupa.
  
D. Perangkat dan Instrumen di Dalam Planetarium dan Observatorium

Sebagai sarana edutainment ilmu astronomi, sebuah planetarium tentunya memiliki prasarana penunjang. Dimana peralatan tersebut adalah sebuah bangunan kubah berbentuk setengah bola, dimana didalamnya digunakan sebagai teater bintang yang memutar simulasi langit secara tiga dimensi, dengan langit-langit kubah sebagai media proyeksi dari proyektor khusus yang mampu menggambarkan posisi benda-benda langit di malam ataupun siang hari.
Selain teater panorama langit, sebuah planetarium modern saat ini memiliki fasilitas yang beragam. Seperti ruang pameran, wahana interaktif, dan lain sebagainya.
Observatorium yang merupakan tempat pengamatan fenomena astronomis pun memiliki beragam macam peralatan dan instrumentasi. Sebuah observatorium astronomi yang memiliki teleskop optik dituntut memiliki sebuah bangunan yang dapat melindungi teleskop tersebut yang merupakan instrumen utamanya. Yang tentunya untuk fleksibilitas dan kepraktisan, sebuah bangunan yang memuat suatu teleskop optis memiliki atap yang dapat di buka-tutup dengan cepat dan terkadang juga mampu menyesuaikan pergerakan teleskop itu sendiri secara motorik.
Selain teleskop sebagai collector (bagian pengumpul informasi, baik itu informasi dalam bentuk cahaya tampak ataupun dalam panjang gelombang yang lain), sebuah observatorium juga memiliki instrumen pendukung observasi yaitu detektor, dimana perangkat tersebut dapat berupa kamera CCD, spektroskop, dan detektor sinar-X; sinar gamma; ataupun Infra-red. Lain halnya jika teleksopnya merupakan teleskop yang bekerja pada rentang gelombang radio, tentunya ia hanya memiliki sebuah collector yang jika dilihat sepintas mirip seperti sebuah parabola, dan sebuah detektor yang sangat sensitif dengan frekuensi radio tertentu. Berbeda dengan teleskop optis, kebanyakan teleskop radio tentu tidak memerlukan bangunan yang


dapat menutupinya, karena teleskop radio tersebut tidak memiliki komponen yang rentan dan sensitif terhadap cuaca dan lingkungan disekitarnya.
Dan instrumen terakhir dari serangkaian sebuah sistem di observatorium, yaitu analyzer (penganalisa) merupakan sebuah sub-sistem yang digunakan untuk menganalisa data-data hasil observasi, yang pada era dijital seperti saat saat ini sudah menggunakan perangkat yang terkomputerisasi bahkan dengan komputer super yang sangat canggih.

E. Planetarium dan Observatorium di Indonesia

1. Planetarium dan Observatorium Jakarta

Salah planetarium dan observatorium yang terkenal adalah Planetarium dan Observatorium Jakarta yang terletak di komplek Taman Ismail Marzuki,Cikini,Jakarta. Tempat ini dibangun pada tanggal 9 September 1964 atas gagasan Presiden pertama RI,Ir. Soekarno dengan maksud menambah wawasan dan ilmu astronomi bangsa Indonesia. Bangunan kubah setengah lingkaran bola berdiameter 22 meter, berhasil diselesaikan pada tahun 1968. Pada tanggal 10 November tahun yang sama diresmikan oleh Gubernur Jakarta pada waktu itu,Ali Sadikin, bersamaan dengan diresmikannya Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki. Tetapi baru pada tanggal 1 Maret 1969 gedung Planetarium dan Observatorium Jakarta dibuka secara resmi untuk umum.
Peralatan utama Planetarium berupa proyektor simulasi langit tipe universal, merupakan gabungan dari 130 buah proyektor kecil. Sedangkan observatoriumnya dilengkapi teropong bintang buatan Carl Zeis, Tetapi sejak  1996 sistem komputerisasi mulai dilakukan di Planetarium dan Oservatorium Jakarta yaitu dengan merenovasi gedung, sekaligus melakukan pemutakhiran peralatan pertunjukan dengan mengganti proyektor universal yang memproyeksikan gambar-gambar matahari, bulan, planet, bintang, komet, yang awalnya dilakukan secara manual diganti dengan sistem komputer, termasuk perubahan letak benda-benda langit dengan peragaan simulasi langit.
Planetarium dan Observatorium tak hanya dibuka bagi masyarakat umum,  tetapi juga bagi anak-anak,rombongan siswa SD sampai dengan mahasiswa tingkat Perguruan Tinggi. Untuk acara siswa sekolah dikemas sedemikian rupa yang dikaitkan dengan pelajaran geografi, fisika, meteorologi dan astronomi sesuai dengan kurikulum di sekolah.
Oleh karena itu Planetarium dan Observatorium Jakarta mempunyai peranan yang sangat penting dalam pencapaian pemahaman ilmu tersebut, sekaligus melaksanakan praktek melihat simulasi alam semesta.

2. Observatorium Bosscha

Salah satu observatorium yang terbesar dan tertua di Indonesia adalah Observatorium Bosscha yang terletak di ketinggian 1310 meter di atas permukaan laut yang berlokasi di daerah Lembang,Bandung.
Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan tehMalabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.
Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928.
Publikasi internasional pertama Observatorium Bosscha dilakukan pada tahun 1933. Namun kemudian observasi terpaksa dihentikan dikarenakan sedang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah perang usai, dilakukan renovasi besar-besaran pada observatorium ini karena kerusakan akibat perang hingga akhirnya observatorium dapat beroperasi dengan normal kembali.
Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia. Pada tahun 2004,Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh pemerintah RI. Selanjutnya, tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital nasional yang harus diamankan.  Observatorium Bosscha berperan sebagai homebase bagi penelitian astronomi di Indonesia.
Share this article :

2 komentar:

  1. Pada tahun 2003 di Tenggarong Kutai Kartanegara diresmikan Planetarium Jagat Raya (PJR)Tenggarong oleh Wapres Hamzah Has. Saat ini PJR merupakan satu-satunya Planetarium di tanah air yang telah dilengkapi proyektor dg teknologi gambar 3D tanpa kacamata. Selain film dasar Astronomi dan Susunan Tata Surya di alam semesta, PJR menayangkan 3 jenis film edutainment astronomi yg berjudul Kaluoka Hina (ttg terumbu karang ~ bulan), Galileo: the power of telescope dan Dinosaurs at the dusk. Masing2 film 3D diputar satu paket dg film dasar astronomi.
    Disamping itu, di halaman samping Planetarium dibangun taman tata surya yg merupakan replika dari 8 planet di alam semesta dalam susunan orbit masing2. Info lebih lanjut dapat mengunjungi facebook kami Planetarium Jagat Raya Tenggarong. Demikian untuk informasi.

    BalasHapus

 
Support : Copyright © 2013. Astronomi ID - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger