Home » , » Mengenal Astrofotografi

Mengenal Astrofotografi

Written By gioabi fashar on Minggu, 16 Juni 2013 | 17.40

Siapa diantara kalian yang gemar dengan hobi fotografi? Ya. Di dalam fotografi terdapat berbagai teknik untuk memotret sebuah objek. Salah satunya adalah teknik Astrofotografi. Astrofotografi berasal dari istilah Yunani yang terdiri dari tiga kata,Astron (bintang), Photos (cahaya),dan Graphos (gambar). Secara bahasa,astrofotografi adalah sebuah seni melukis cahaya yan mengkhususkan objek sasarannya pada objek astronomi dan benda-benda langit lainnya.
Astrofotografi
Sejarah awal mula astrofotografi tidak jauh beda dengan fotografi itu sendiri. Diawali dari penemuan kamera obscura dan kamera lubang jarum pada abad pertengahan, fotografi jauh lebih berkembang saat ditemukan cara merekam gambar pada sebuah media permanen. Usaha itu dimulai pada tahun 1800 oleh seorang berkebangsaan Inggris, Thomas Wedgwood (1771-1805) yang membuat foto citra matahari dengan meletakkan objek buram pada sebuah kulit yang dilapisi oleh silver nitrate, sayangnya hasil citra ini memburuk dengan cepat.
Kemudian, Joseph Nicéphore Niépce (1765-1833) dan Louis Daguerre (1787-1851) bekerja sama dan mendapatkan hasil yang lebih baik. Nama yang disebutkan terakhir mempatenkan alatnya bernama daguerreotype (Sebuah alat yang menggunakan tembaga berlapis perak, dilapisi dengan iodida dan merkuri) dan berhasil mendapatkan citra bulan yang dapat bertahan lama, meski detail belum terekspos dengan baik. Baru pada tahun 1840, John William Draper (1811-1882) berhasil mendapatkan citra bulan pertama dengan detail yang baik menggunakan teleskop refraktor 13 cm.
Astrofotografi terus berkembang pesat seiring dengan perkembangnya teknologi dalam dunia fotografi dalam mengembangkan media penyimpanan gambar.
Pada awal tahun 1960-an, berawal dari keluhan seorang teknisi NASA Jet Propulsion Laboratory, Eugene F. Lally, tentang lamanya waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh foto dari misi-misi luar angkasa Amerika Serikat, tercetuslah ide untuk mendigitalisasi sebuah foto. Atas kebutuhan tersebut, pada bulan Desember tahun 1975, seorang teknisi dari perusahaan Kodak yang bernama Steven Sasson, menjadi orang pertama yang menemukan Kamera Digital. Kamera yang dibuatnya menggunakan sensor CCD sebagai media penerimaan gambar dan hanya mampu menghasilkan foto hitam putih dengan resolusi sebesar 0,01 megapixel (320 x 240 pixel). Media penyimpanannya adalah sebuah kaset tape, sedangkan untuk melihat hasil gambar, kamera ini harus disambungkan terlebih dahulu dengan sebuah televisi. Kamera ini mempunyai bobot seberat 3,6 kg dan membutuhkan waktu tak kurang dari 23 detik untuk memproses satu buah foto.
Kehadiran kamera digital memberikan efek perkembangan yang begitu besar bagi astronomi dan astrofotografi. Kamera digital memungkinkan astronom dapat menganalisa spektrum benda langit dengan lebih presisi. Kamera digital juga digunakan oleh teleskop luar angkasa untuk memotret kedalaman alam semesta. Kamera digital bahkan juga dikirim ke halaman tetangga planet kita untuk mengintip suasana kehidupan di sana.
Kamera digital mulai banyak digunakan oleh masyarakat dan para amatir pada akhir tahun 1990an, ketika kamera digital sudah semakin murah dan dan mudah terjangkau. Kemudahannya bagi para amatir adalah bahwa hasil foto dapat langsung dilihat dan dinikmati. Selain itu juga tentu bisa langsung dievaluasikan, apakah foto terlalu gelap, terlalu terang, kurang fokus dan sebagainya. Hal ini membuat astrofotografi jauh lebih sederhana dan mudah bagi siapa saja.

Bermain dengan Cahaya
Cahaya mejadi segalanya dalam dunia fotografi. Dalam fotografi, terdapat tiga elemen dasar dalam mengatur cahaya yang dirangkum dalam segitiga eksposur:

1. Shutter Speed/Kecepatan rana
Dalam proses memotret, kamera melakukan sebuah proses buka tutup pada sebuah jendela yang berada tepat didepan sensor. Seberapa cepat proses jendela ini membuka dan menutup akan menentukan seberapa banyak cahaya yang masuk dan menyinari bidang sensor. Pengaturan pada elemen ini bervariasi, mulai dari yang cepat, contohnya 1/4000 (1 detik dibagi 4000) hingga yang lambat, contohnya 30 detik. Pilihan objek dan kondisi pencahayaan sasaran foto akan menentukan pengaturan rana mana yang anda gunakan. Memotret matahari dan suasana siang hari tentu berlimpah dengan cahaya sehingga anda akan memilih pengaturan rana yang cepat. Sebaliknya, memotret bintang dan suasana malam hari tentu gelap dan membutuhkan pengaturan rana yang lama agar sensor mendapatkan waktu yang cukup untuk mengumpulkan cahaya dan menghasilkan foto yang tidak gelap.
Pilihan kecepatan rana ini juga dapat digunakan untuk membuat efek pada gambar. Untuk dapat membuat benda bergerak menjadi terlihat diam, anda harus menggunakan pengaturan rana cepat. Sebaliknya, anda dapat membuat efek gerak pada gambar dengan menggunakan pengaturan rana yang lambat.

2. Aperture/Diafragma

Setiap lensa kamera memiliki sebuah lorong tempat masuknya cahaya. Pada salah satu bagan lorong tersebut terdapat sebuah jendela yang lebarnya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Jendela ini disebut sebagai Diafragma. Lebar dan sempitnya diafragma dapat menentukan seberapa banyak cahaya yang dapat masuk dalam sebuah rentang waktu eksposur tertentu. Hal ini berkaitan dengan pilihan objek dan kondisi pencahayaan. Jika objek foto anda memiliki pencahayaan yang cukup, anda dapat menggunakan diafragma yang sempit. Sebaliknya, kondisi pencahayaan yang gelap pada objek foto membuat kita harus memperlebar ukuran diafragma.
Pengaturan ukuran diafragma ini juga dapat menentukan seberapa lebar kedalaman fokus sebuah foto. Semakin besar ukuran diafragma, semakin lebar fokus yang didapatkan. Sebaliknya, semakin kecil ukuran diafragma, semakin sempit fokus yang didapatkan. Dalam fotografi, nilai ukuran diafragma dinyatakan dalam simbol F, dan memiliki ukuran nilai dengan fungsi yang terbalik. Semakin kecil nilai F, contohnya F 2.8, F 1.8, F 1.4, maka semakin lebar ukuran diafragma. Sebaliknya, semakin besar nilai F, contohnya F 16, F 22, F 32, maka semakin sempit ukuran diafragma.

3. ISO/Sensitivitas Sensor
Setelah cahaya masuk melalui lensa dan melewati diafragma, cahaya akan diterima oleh sensor kamera. Sensor berfungsi sebagai penangkap cahaya dan penghasil gambar. Sensor memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda-beda dalam mendeteksi cahaya yang masuk. Semakin kecil nilai sensor, contohnya 50, 100 atau 200, maka semakin kecil kemampuan mendeteksi cahaya. Sebaliknya, semakin besar nilai sensor, contohnya 1600, 3200, 6400, maka semakin tinggi dan sensitif dalam mendeteksi cahaya.
Seperti pada dua elemen sebelumnya, pengaturan ISO ini juga ditentukan oleh seberapa terang objek sasaran anda. Memotret matahari atau kondisi siang hari tentu cukup dengan menggunakan ISO yang rendah. Sementara itu, memotret bintang atau kondisi malam hari membutuhkan ISO yang tinggi. Satu hal yang harus anda perhatikan adalah bahwa mengunakan ISO tinggi pada objek terang akan membuat hasil foto anda terlalu terang bahkan ‘terbakar’ atau overexposure. Sebaliknya, menggunakan ISO rendah pada objek gelap akan membuat hasil foto anda gelap atau underexposure. Selain itu, pada sensor digital yang menggunakan media elektronik, semakin tinggi nilai ISO, maka kualitas gambar akan semakin turun karena gambar akan terlihat lebih kasar. Dalam fotografi, sesuatu yang membuat kasar ini disebut sebagai Noise.

Kesimpulannya, tiga elemen inilah yang menjadi dasar dari fotografi. Semakin handal anda dalam memainkan tiga elemen ini, maka semakin baiklah skill anda dalam menjadi seorang fotografer.

Segitiga Eksposure. Tiga Elemen dasar dalam Fotografi.
Apa yang harus disiapkan?

Kamera


Untuk dapat memulai belajar astrofotografi, satu hal yang wajib anda siapkan tentu adalah kamera. Kamera yang digunakan bisa apa saja, mulai dari kamera analog yang masih menggunakan roll film (baik yang tustel ataupun SLR), kamera handphone atau laptop, kamera Webcam, kamera digital pocket, kamera digital SLR, hingga kamera CCD khusus astronomi. Keseluruhan kamera-kamera itu dapat dipakai dalam astrofotografi sesuai dengan fungsi, kekurangan dan kelebihannya. Tingkat teknologi yang dimiliki oleh setiap kamera tentu akan memberikan hasil akhir yang berbeda pula. Singkatnya, harga berbanding lurus dengan kualitas. Tapi tentu saja skill, teknik kemampuan dan pengetahuan yang tinggi dalam memotret dan mengolah gambar akan lebih menentukan.

Dudukan Kamera atau Tripod

Astrofotografi identik dengan malam hari dan objek redup sehingga membutuhkan waktu eksposur yang lama. Hal ini tentu membuat kita membutuhkan posisi diam kamera yang lama agar hasil foto tidak gerak dan buram, karena itulah anda butuh tripod. Namun, jika objek pemotretan anda adalah benda langit yang terang seperti matahari dan bulan purnama, maka tripod tidak terlalu menjadi persoalan.

Jika anda punya: Teleskop

Dengan kamera apapun yang anda miliki, anda sudah dapat melakukan sebuah pemotretan astrofotografi. Untuk dapat memotret, setiap kamera tentu memiliki lensa untuk dapat memfokuskan sebuah benda dan diterima oleh sensor sebagai citra yang fokus dan tajam. Setiap lensa juga memiliki variasi panjang fokus yang berbeda-beda. Sementara objek benda langit yang ingin kita potret memiliki ukuran visual yang bermacam-macam, maka perbedaan variasi panjang fokus ini tentu akan sangat berpengaruh pada tujuan kita memotret sebuah benda langit. Jika anda merasa lensa kamera anda tidak cukup untuk menjangkau sebuah objek jauh, maka anda membutuhkan lensa dengan magnifikasi lebih tinggi. Untuk itu, anda membutuhkan lensa tele atau bahkan lensa teleskop.

Aksesoris


Tujuan anda dalam memotret akan menentukan seberapa banyak aksesoris yang anda butuhkan untuk menunjang pemotretan. Pada pemotretan yang membutuhkan bantuan teleskop misalnya, anda membutuhkan adaptor untuk menghubungkan kamera dengan teleskop. Sementara itu, objek langit pilihan anda kerapkali membutuhkan waktu eksposur dalam pengaturan yang tidak dapat ‘disanggupi’ secara otomatis oleh kamera, karena itulah anda membutuhkan Shutter/Remote Shutter Release (lihat gambar di atas). Jika anda tidak memiliki alat tersebut, anda dapat menggunakan perangkat lunak khusus yang dapat mengontrol penuh kamera anda dalam mengambil gambar. Perangkat lunak ini dapat anda pasang di komputer dan dihubungkan dengan kabel khusus ke kamera yang dapat mendukung fitur ini. Manfaat lain dari alat dan perangkat lunak ini juga dapat mengurangi efek gerak kamera yang disebabkan oleh penekanan tombol rana secara manual. Pilihan objek benda langit dan kondisi pemotretan juga membuat anda membutuhkan filter. Memotret matahari jelas membutuhkan filter matahari, bahkan seringkali bulan purnama masih terlalu terang bagi kamera anda sehingga membutuhkan filter bulan. Memotret benda langit di daerah padat penduduk juga membuat anda membutuhkan filter penapis polusi cahaya.

Bagaimana Caranya?

Jika anda sudah menyiapkan semua peralatan, anda bisa melanjutkan dengan teknik dan cara memotret astrofotografi. Dalam hal ini, ada beberapa teknik astrofotografi yang bisa anda lakukan:

1. Fixed Camera
Metode ini adalah yang paling sederhana dan mudah. Menggunakan lensa kamera bawaan, anda tinggal menyetel pengaturan kamera dengan benar sesuai dengan kondisi objek pilihannya, lalu mengambil gambar. Entah mengambilnya dengan anda memegang kamera atau meletakannya diatas tripod. Dengan tanpa tripod, anda masih bisa memotret benda dan fenomena langit seperti gerhana, pelangi, halo matahari dan bulan. Sementara dengan tripod anda dapat memotret lanskap bintang, bima sakti, rasi bintang, star trail, meteor dan sebagainya.

2. Piggy Back / Driven Camera
Astrofotografi identik dengan benda-benda langit yang penampakannya tidak pernah diam, selalu bergerak berlawanan dengan arah rotasi bumi. Benda-benda langit tersebut juga mayoritas memiliki cahaya yang redup sehingga membutuhkan waktu eksposure yang lama. Memotret dengan eksposur lama pada sebuah objek yang bergerak menjadi sebuah jaminan hasil foto akan buram dan tidak fokus. Hal ini membuat anda harus menggerakkan kamera anda sesuai dengan pergerakan benda-benda langit tersebut. Teknik ini disebut dengan Piggy back/Driven Camera, dimana kamera diletakkan pada sebuah alat yang dapat mengikuti gerak benda langit. Dengan teknik ini anda dapat memotret benda langit dengan waktu eksposur yang lebih lama tanpa khawatir hasil foto akan buram. Dengan begitu hasil foto benda redup seperti rasi bintang dan galaksi bima sakti akan dapat terlihat lebih spektakuler. Anda juga dapat memotret benda langit seperti komet atau bahkan nebula dan galaksi dalam medan pandang yang luas.

Dua cara di atas merupakan teknik astrofotografi yang dibedakan berdasarkan kebutuhan pada cara pengambilan gambar. Kebutuhan ini bergantung pada seberapa terang cahaya objek sasaran sehingga akan menentukan seberapa lama eksposur yang dibutuhkan. Sementara itu, terdapat beberapa teknik astrofotografi yang terbagi berdasarkan kebutuhan cara menangkap cahaya dan fokus objek. Keseluruhannya membutuhkan teleskop sebagai alat bantu magnifikasi. Di antaranya adalah:

1. Afocal
Afokal adalah teknik fotografi yang menggunakan lensa objektif (eyepiece) pada teleskop sebagai alat bantu magnifikasi. Menjadi teknik yang mudah dan murah karena dapat menggunakan kamera yang sederhana seperti kamera handphone, kamera digital dan webcam. Caranya sangat mudah dengan hanya meletakkan lensa kamera anda pada bidang eyepiece teleskop, lalu mengambil gambar. Kesulitan pada teknik ini adalah dalam mensejajarkan lensa eyepiece dengan lensa kamera. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan adaptor tambahan. Karena menggunakan kamera yang sederhana, maka objek yang dapat dipotret pada teknik ini terbatas pada objek-objek terang yang tidak membutuhkan eksposur yang lama, seperti matahari, bulan dan planet, tidak peduli jika teleskop anda dilengkapi dengan motor penggerak.

2. Eyepiece Projection
Teknik ini hampir sama dengan Afokal, hanya saja menggunakan kamera yang lensanya dapat dilepas. Cara ini dapat mengurangi distorsi yang dihasilkan oleh pertemuan dua lensa antara lensa eyepiece dengan lensa kamera dan tentu dapat menghasilkan foto yang lebih baik. Teknik ini membutuhkan adaptor tambahan yang dapat menghubungkan dan mensejajarkan lensa eyepiece dengan sensor kamera. Kamera yang lensanya dapat dilepas biasanya memiliki fitur manual sehingga dapat memotret dengan eksposure yang lama. Karena itu, jika teleskop anda dilengkapi dengan motor penggerak, maka anda tidak hanya dapat memotret benda terang seperti matahari, bulan dan planet, tapi juga dapat memotret benda langit eksotis seperti nebula, galaksi dan star cluster.

3. Negative Projection
Terkadang anda membutuhkan magnifikasi yang lebih tinggi dari yang eyepiece hasilkan. Untuk itu anda membutuhkan sebuah alat yang dapat menambah panjang fokus sebuah teleskop. Alat tersebut biasa disebut dengan Barlow, yang dipasang sebelum lensa Eyepiece. Selain Barlow, teknik ini juga dapat menggunakan lensa teleconverter, yang dipasang pada badan kamera. Baik Barlow maupun teleconverter, sama-sama memiliki pilihan ukuran perbesaran, mulai dari 0.5 kali, 1 kali, 1.5 kali, 2 kali, 2.5 kali hingga 3 kali. Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa meskipun menawarkan kemewahan dalam mengkalikan total perbesaran meningkatkan magnifikasi, teknik ini juga mengkalikan besaran nilai diafragma sehingga lorong yang dilewati oleh cahaya akan semakin sempit dan juga secara drastis dapat menurunkan kemampuan dalam memfokuskan sebuah benda.
Pemotretan dengan teknik ini dapat sangat membantu dalam memotret benda kecil namun terang seperti planet. Namun kurang direkomendasikan untuk memotret benda langit redup seperti nebula atau galaksi karena faktor pengurangan kemampuan fokus.

4. Compression
Jika anda memiliki teleskop dengan magnifikasi yang tinggi, maka akan sangat membantu dalam memotret benda-benda langit yang kecil. Tapi, terkadang anda juga membutuhkan magnifikasi yang lebih rendah untuk dapat melihat benda langit dalam bidang yang lebih luas. Untuk hal ini, anda dapat menggunakan sebuah lensa tambahan bernama Focal Reducer, yang diletakkan sebelum lensa Eyepiece. Dengan alat ini anda tidak perlu mengganti teleskop yang memiliki diameter yang lebih kecil untuk dapat memotret keseluruhan bagian bulan misalnya.

5. Prime Focus
Kekurangan utama pada teknik-teknik astrofotografi yang telah dijelaskan sebelumnya adalah cahaya yang diterima oleh sensor mengalami distorsi dan penyempitan diaframa sehingga proses fokus menjadi lebih sulit. Keberadaan lensa eyepiece dan lensa kamera, termasuk juga Barlow dan Focal Reducer membuat cahaya dari objek sasaran mengalami penyesuaian fokus berkali-kali. Hal ini berbeda dengan teknik Prime Focus. Teknik Prime Focus menggunakan teleskop tanpa lensa Eyepiece yang dihubungkan langsung melalui sebuah adaptor ke badan kamera tanpa menggunakan lensa. Singkatnya, kamera menggunakan teleskop sebagai lensa utamanya.
Prime Focus adalah teknik yang paling sering dipakai dalam astrofotografi tingkat lanjut. Dengan teknik ini, cahaya yang diperoleh teleskop langsung diterima oleh sensor kamera sehingga proses pemfokusan cahaya hanya terjadi sekali dan diatur secara manual oleh teleskop. Hal ini membuat citra gambar menjadi lebih tajam tanpa distorsi berlebihan. Satu-satunya kekurangan pada teknik ini adalah bahwa magnifikasi yang didapat hanyalah terhasil dari hasil refraksi lensa utama teleskop. Jika anda ingin memperbesar magnifikasi, gantilah teleskop anda dengan ukuran diameter optik yang lebih besar dan ukuran fokus yang lebih panjang.
Dengan teknik ini anda dapat memotret hampir semua jenis benda langit, seperti matahari, bulan, planet, komet, bintang, cluster, nebula dan galaksi dan sebagainya. Namun, karena menggunakan teleskop, teknik ini tidak dapat memotret fenomena langit yang memiliki sudut pandang yang luas seperti meteor, aurora, halo dan sebagainya.

Yang Harus Diperhatikan!

Astrofotografi adalah varian dari jenis fotografi dimana objek sasarannya tidak bisa diatur sesuai keinginan. Anda tidak dapat membuat bulan menjadi lebih dekat misalnya, atau menambah cahaya yang dimiliki sebuah galaksi yang redup. Yang dapat anda lakukan hanyalah menambah magnifikasi, mempersensitif sensor atau memperlambat waktu eksposur. Keseluruhannya dapat dilakukan namun dengan ‘harga yang harus dibayar’. Menambah magnifikasi akan mengurangi ukuran diafragma dan mengurangi kontras citra. Mempersensitif sensor juga harus berhadapan dengan Noise yang mengurangi kualitas gambar. Sedangkan memperlambat waktu eksposur juga sangat rentan dengan getaran sehingga membuat gambar jadi buram.
Satu hal yang paling sering terjadi adalah efek getar pada kamera. Dengan pegangan tangan, kamera tentu selalu gerak. Dengan bantuan tripod pun tidak serta merta menyelesaikan masalah. Anda harus menggunakan tripod yang rigid sehingga kamera terpaku kuat. Selain itu anda juga harus memastikan bahwa lokasi pemotretan tidak berangin sehingga terpaan angin tidak membuat kamera menjadi gerak. Proses memencet tombol rana secara manual juga dapat membuat efek gerak yang cukup signifikan, sehingga anda membutuhkan mode timer atau menggunakan remote/shutter release. Bahkan, jika anda menggunakan kamera SLR/DSLR, aktifitas buka tutup cermin kamera dalam memotret juga dapat memberikan efek gerak sehingga anda harus menggunakan mode Mirror Lock Up atau Exposure Delay.
Jika anda menggunakan motor penggerak pada kamera atau teleskop untuk pemotretan dalam eksposur yang lebih lama, anda juga harus benar-benar memperhatikan ketepatan arah kutub motor anda (Polar Alignment). Sebuah motor penggerak harus dapat mengikuti gerak semu harian benda langit pada sudut dan kecepatan yang sama seperti yang terjadi pada bumi. Kekeliruan pada arah kutub utara selatan dan sudut lintang pengamat akan membuat gambar anda menjadi buram, gerak dan tidak fokus. Polar Alignment inilah yang menjadi tantangan paling sulit dalam astrofotografi, terutama jika anda berada di lintang selatan karena tidak ada titik bintang tetap sebagai pemandu kutub seperti yang terjadi pada lintang utara dengan bintang polarisnya.

Astrofotografi Tingkat Serius: Stacking/Menumpuk Gambar
Pada penjelasan sebelumnya kita sudah mempelajari bahwa mayoritas objek astrofotografi memiliki cahaya yang lemah sehingga sensor membutuhkan waktu pencahayaan yang lama. Secara sederhana kita mudah saja berspekulasi, semakin lama sensor terpapar cahaya maka semakin baik foto yang dihasilkan. Sayangnya tidak serta merta seperti itu. Jika kita menggunakan sensor digital sebagai penghasil gambar, maka kita akan selalu berurusan dengan problem termal yang dihasilkan oleh sifat elektris sensor digital. Hal ini akan menghasilkan sebuah sinyal acak yang kita sebut sebagai Noise. Efeknya pada hasil gambar adalah foto terasa grainy atau kasar. Hal yang sama terjadi jika kita menaikkan nilai ISO pada sebuah foto. ISO yang tinggi artinya menaikkan kinerja sensitivitas sensor secara maksimum sehingga semakin rentan akan menimbulkan noise. Dalam fotografi eksposur lama, semakin lama sebuah sensor bekerja dalam menampung cahaya, maka problem noise akan semakin banyak muncul.
Kemudian mungkin anda akan bertanya-tanya, bagaimana orang dapat membuat sebuah foto astronomi yang sangat menakjubkan seperti foto wilayah langit yang penuh dengan awan gas nebula berwarna-warni. Anda tidak perlu sebuah teleskop angkasa Hubble misalnya, untuk dapat membuat foto seperti itu. Cukup dengan satu cara ajaib, yaitu menumpuk gambar, Stacking.
Jika anda serius ingin mendalami stacking, anda tidak lagi menganggap objek bidikan anda sebagai sebuah gambar, tapi sebuah kumpulan foton yang dipancarkan oleh sebuah benda dan ditampung oleh sebuah ‘ember’ bernama sensor. Dalam sebuah proses pengambilan gambar, sensor digital tidak hanya menangkap cahaya asli dari sebuah objek, tapi juga menangkap sinyal radio acak, sinar kosmik, getaran termal dan hal lain sebagainya yang bukan berasal dari sumber objek yang sedang kita foto. Kita sebut itu semua sebagai Noise. Artinya, Dalam satu bingkai foto, terdapat banyak hal yang tertangkap, yang sayangnya mayoritas dari itu justru bukan sesuatu yang kita perlukan, yaitu cahaya dari objek sasaran kita. Kita memerlukan sebuah tindakan yang dapat memunculkan cahaya objek sasaran secara dominan dibanding hal-hal yang tidak kita perlukan tadi. Tindakan itu adalah Stacking.
Satu-satunya alasan mengapa kita melakukan stacking adalah untuk meningkatkan Signal to Noise Ratio (SNR), yaitu sebuah nilai rasio sinyal cahaya objek sasaran terhadap noise sekitar. Dalam setiap foto kita ingin nilai rasio SNR ini bertambah sehingga cahaya yang berasal dari objek sasaran mengalami penguatan dan noise sekitar justru dapat diabaikan.
Caranya cukup mudah, siapkanlah kamera beserta lensa atau teleskopnya. Untuk astrofotografi ini, anda membutuhkan motor penggerak untuk membuat kamera selalu mengikuti arah gerak benda langit. Sangatlah penting membuat setiap foto yang kita ambil memiliki posisi benda yang sama karena yang akan kita lakukan adalah menumpuk gambar. Jika peralatan sudah siap, ambillah sejumlah gambar objek langit dalam sebuah nilai eksposur yang cukup untuk mendeteksi cahaya dari objek tersebut. Maksimalkan nilai eksposur hingga mencapai batasan eksposur langit, namun dengan catatan tidak ada masalah dengan Polar Alignment. Ambillah sejumlah gambar sehingga total eksposur yang diambil memenuhi target, misalnya satu jam. Maka jika eksposur tiap foto adalah 1 menit, maka ambillah sebanyak 60 buah foto. Hasil foto objek ini kita sebut sebagai Sub Light. Jika sudah, tutuplah lensa kamera atau teleskop anda kemudian lakukan pengambilan gambar dengan pengaturan yang sama dengan jumlah minimal setengahnya. Kita sebut hasil foto itu sebagai Sub Dark. Sub Dark digunakan untuk dapat memperoleh informasi noise dan hot pixel pada sepanjang pemotretan Sub Light yang pada proses akhir akan digunakan sebagai penyaring gambar. Jika sudah, anda dapat melanjutkan mengolah foto menggunakan perangkat lunak yang dapat menumpuk gambar.
Teknik Stacking pada dasarnya tidak hanya dengan membuat foto yang banyak lalu ditumpuk, tapi juga bisa dengan cara mengambil video sebuah objek langit lalu memecahnya menjadi puluhan bahkan ratusan foto kemudian ditumpuk. Cara ini jauh lebih sederhana namun hanya berlaku pada objek langit yang cukup terang untuk dapat dideteksi oleh sensor dalam mode video, seperti bulan, matahari atau planet. Cara pengambilan video inilah yang sangat populer digunakan orang untuk mengambil gambar planet, bulan dan matahari karena dapat menggunakan kamera yang murah, seperti Webcam. Hasil video dapat diproses menggunakan perangkat lunak yang dapat memproses video. Selain untuk keperluan foto Deep Sky dan Planetary, Teknik stacking juga digunakan untuk membuat efek Star Trail. Alih-alih membuka sensor selama berjam-jam, jauh lebih mudah dan aman jika melakukannya dengan cara menumpuk gambar.
Fotografi Digital = Pengolahan Digital
Banyak orang yang skeptis dan apatis dengan fotografi digital karena merasa hasil foto dapat dengan mudah direkayasa dan disulap menjadi foto yang indah. Karena alasan itulah banyak orang yang masih setia menggunakan sensor analog seperti roll film. Hal itu memang tidak bisa disalahkan, namun juga sekaligus tidak dapat dibenarkan karena fotografi adalah seni yang bermain dengan rasa dan selera sehingga pendapat tiap orang pasti berbeda-beda. Apapun itu, jika anda menggunakan fotografi digital, pengolahan digital (Digital Image Proccessing) terasa cukup perlu. Tidak untuk merekayasa, tapi untuk memaksimalkan kerja kamera terhadap hasil foto.
Pengolahan digital semakin dirasa perlu jika objek yang difoto adalah benda langit. Ya, astrofotografi memerlukan pengolahan digital dengan segala ‘sampah’ gelombang, sinyal acak dan sinar kosmiknya, meski hanya sekedar menaikkan kontras dan kecerlangan, atau mengurangi noise pada gambar. Terlebih jika anda menggunakan teknik stacking, pengolahan digital mutlak diperlukan.
Kesimpulannya, kita membutuhkan pengolahan digital. Digital berarti kita mengolahnya di komputer menggunakan perangkat lunak. Secara umum terdapat dua tahap pengolahan digital yang masing-masing memiliki perangkat lunak yang berbeda-beda dalam hal fungsi, semua tergantung dari teknik kita dalam astrofotografi. Jika anda menggunakan teknik sederhana menggunakan satu foto, anda dapat langsung mengolahnya pada perangkat lunak yang dapat mengoreksi dan meningkatkan kualitas gambar. Perangkat lunak itu diantaranya adalah Photoshop, Lightroom, Gimp, Nebulosity dan lain-lain. Tapi jika anda menggunakan teknik yang melibatkan banyak foto, anda dapat mengolahnya terlebih dahulu pada perangkat lunak yang dapat melakukan kalibrasi, alignment dan stacking. Perangkat lunak itu antara lain Deep Sky Stacker, Avistack, Registax, IRIS, ImagePlus, AstroArt, PixInsight, MaximDSLR dan lain-lain.
Setiap perangkat lunak tentu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing tergantung dari kebutuhan dan kenyamanan anda. Hal itu tentu tidak akan bisa saya jabarkan di sini, terlebih jika pertanyaannya adalah bagaimana cara menggunakannya. Mencoba dan melatih diri adalah cara yang paling baik dalam memahami cara kerja tiap perangkat lunak dalam mengolah gambar.
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Copyright © 2013. Astronomi ID - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger