Home » » Asteroid "Kentang" Melintas di Dekat Bumi

Asteroid "Kentang" Melintas di Dekat Bumi

Written By gioabi fashar on Selasa, 11 Desember 2012 | 14.42



Asteroid "kentang" atau nama ilmiahnya adalah asteroid toutatis,sedang menuju ke bumi. Pada tanggal 12 Desember 2012,asteroid ini akan melewati bumi pada pukul 13:40 WIB. Asteroid sebesar dua kali Gunung Merapi ini akan melewati bumi dengan jarak 6,95 juta kilometer atau setara dengan jarak 18 kali bumi-bulan. Suatu jarak yang cukup dekat dalam skala astronomis.
Asteroid Toutatis akan tampak seperti bintik cahaya redup dengan magnitudo +8 sampai +10 sehingga butuh bantuan teleskop untuk melihatnya. Asteroid ini akan terlihat pada malam hari dan hanya dapat dilihat oleh beberapa negara,yang meliputi Samudera Pasifik,benua Amerika,dan sebagian Samudera Atlantik.
Walaupun asteroid ini sudah terbit di Indonesia pada pukul 13:00 WIB,Tetapi asteroid ini baru akan menampak setelah matahari terbenam hingga Toutatis tenggelam di ufuk berat pada pukul 02:00 WIB.
Toutatis akan terlihat di dekat rasi bintang Cetus dan Pisces yang terlihat di langit barat sekitar pukul 22:00 WIB.

Kalau Menabrak?

Asteroid ini dibilang sangat besar. Lalu bagaimana kalau toutatis menabrak bumi?. Pasti akan berakibat fatal,bukan?
Toutatis akan melaju dengan kecepatan 11,9 km/detik atau 42.800 km/jam. Aapabila toutatis menabrak bumi,maka asteroid ini akan memiliki kecepatan 16,3 km/detik atau 58.800 km/jam.   Pada kecepatan tumbuk sebesar itu,maka hantaman toutatis dengan bumi bakal melepaskan energi yang sangat dahsyat. Jika titik target toutatis adalah  batuan sedimen,maka akan terjadi pelepasan energi sebesar 1,68 juta megaton TNT yang setara dengan 84 juta bom nuklir Hiroshima yang diledakan. Energi sebesar itu bakal mengoyak titik tumbuknya menjadi kawah selebar 39 km sembari melepaskan panas tinggi yang mampu membakar obyek hingga sejauh 700 km. Jika Toutatis jatuh di Bandung (Jawa Barat) maka sekujur Pulau Jawa hingga ke Situbondo (Jawa Timur) bakal merasakan hempasan panas membakar yang mampu menyalakan pepohonan di hutan dengan spontan.
Simulasi bagaimana jika asteroid Toutatis jatuh di Bandung (Jawa Barat). Lingkaran-lingkaran menunjukkan area yang mengalami getaran pada skala getaran MMI (modified mercalli intensity) tertentu. Sebagai gambaran, pada skala 6 MMI bangunan di Indonesia bakal runtuh, namun pada skala 3 MMI hanya terasa sebagai getaran keras layaknya getaran akibat melintasnya sebuah truk besar kala kita berdiri di tepi jalan.
Namun permasalahan terbesar yang dihadapi Bumi jika Toutatis jatuh menumbuk adalah gangguan berat pada lingkungan.Tumbukan Toutatis memang bakal membentuk kawah raksasa yang menyemburkan materinya ke lingkungan sekitarnya. Sehingga jika asteroid itu jatuh di Bandung (Jawa Barat), batu dan debu dengan ketebalan rata-rata 10 meter bakal menimbuni kawasan sangat luas sejak dari Bogor hingga Sumedang (Jawa Barat), sementara Semarang (Jawa tengah) ditimbuni debu setebal 10 cm. Selain menimbuni kawasan luas, sebagian debu itu (khususnya yang berukuran mikron) bakal membumbung tinggi ke atmosfer hingga menjangkau lapisan stratosfer untuk kemudian terdistribusi ke segenap penjuru. Bersamanya bakal terbawa juga gas Belerang, yang bereaksi dengan butir-butir uap air di atmosfer hingga membentuk aerosol asam sulfat. Bersama debu mikron tadi, aerosol ini membentuk tabir surya natural penghalang sinar Matahari nun jauh di ketinggian stratosfer yang sanggup bertahan selama bertahun-tahun kemudian sebelum akhirnya kembali mengendap sebagai hujan debu dan hujan asam. Selama masih berada di lapisan stratosfer, tabir surya ini menghalangi sinar matahari yang jatuh ke Bumi hingga membuat Bumu remang-remang.

Panitia Penyambutan

Bukan hanya para ilmuwan saja yang menyambut asteroid ini,tetapi juga wahan ruang angkasa tak berawak. Yaitu Chang’e 2, wahana antariksa seberat 2,6 ton yang diorbitkan Cina pada 1 Oktober 2010, yang bakal memonitor Toutatis dari jarak beberapa ratus kilometer.Chang’e 2 semula diluncurkan Cina ke orbit Bulan guna memetakan permukaan Bulan dalam resolusi tinggi sebagai bagian ambisi Cina untuk mendaratkan robot jarak jauh dan manusia dalam ekplorasi Bulan mendatang. Setelah usai menjalankan tugas primernya, Chang’e 2 diprogram untuk terbang menuju titik Lagrange-2, yakni titik yang terletak sejauh 1,5 juta km di belakang Bulan dan segaris lurus sepenuhnya dengan Matahari dan Bumi. Dari titik Lagrange-2 ini Chang’e kemudian bermanuver untuk mengejar Toutatis sejak 2 April 2012.

Sumber : Kafe Astronomi dan langit selatan
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Copyright © 2013. Astronomi ID - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger